Sabtu, 14 Agustus 2021

Perjalanan Mencari Cinta Spritual

Judul : Di Mana Ada Cinta, Di Sana Tuhan Ada
Penulis : Leo Tolstoy
Penerjemah : Atta Verin
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Edisi : Pertama, Februari 2011
Tebal : 200 halaman
Peresensi : Wildani Hefni
Lampung Post, 17 Juli 2011
 
TAK bisa dibayangkan, ketika kehidupan dipenuhi dengan cobaan, dijejali penderitaan, diisi kesepian, mesti akan terasa hampa. Kehidupan akan berbalik dari bahagia menjadi melankolis, dari perasaan senang menjadi sedih, dari senyum dan canda tawa akan beralih menjadi gelisah dan duka. Tentu semua orang menginginkan kebahagiaan, kesenangan, keceriaan, dan keindahan. Tapi apa daya jika pada kenyataannya tak sesuai dengan apa yang diinginkan, jauh dari apa yang diharapkan.
 
Jika sudah demikian, siapa yang patut disalahkan? Apakah mengubur diri dalam ketidakpastian, atau menyalahkan orang di sekeliling kita, atau bahkan berdemonstrasi pada Tuhan dengan omelan-omelan yang kasar?
 
Tentu tak demikian caranya. Leo Tolstoy, seorang sastrawan besar Rusia dalam novel ini memberikan cara yang baik dengan menunjukkan bahwa dalam setiap sendi kehidupan, di sana terdapat kasih Tuhan yang selalu menemani setiap hamba. Novel ini terdiri dari lima cerita terbaik Leo Tolstoy yang semuanya berisi ajaran untuk mengampuni dan berdamai dengan orang lain.
 
Salah satu cerita dalam novel ini berkisah tentang seorang perajin sepatu bernama Martin Adveich, yang merasa kesepian setelah ditinggal mati istri dan putra semata wayangnya. Istri Martin meninggal dunia ketika ia masih tinggal dengan majikannya. Anak Martin tak ada yang hidup, semua anak yang lebih tua meninggal sejak masih kanak-kanak, yang hidup hanya anak terakhirnya, Kapiton. Apa yang terjadi, lambat laun Kapiton jatuh sakit, merana selama dua minggu dan akhirnya meninggal dunia.
 
Anak semata wayang yang mulai membantu Martin juga telah tiada. Hal ini menjadikan hidup Martin Melankolis dan selalu mengeluh kepada Tuhan, mengomel agar Tuhan menghentikan hidupnya. Martin yang awalnya rajin ke gereja, menjadi malas karena merasa disiksa oleh Tuhan.
 
Setelah tujuh tahun Martin tak datang ke gereja, akhirnya ada seorang lelaki tua datang dari Biara Trinitas untuk menjenguk Martin.
 
Lelaki itu menanyakan perihal ketidakmunculan Martin di gereja. Martin pun mengeluhkan akan kepedihan hidup yang ia alami. Akhirnya, lelaki tua itu menyuruh Martin untuk tak putus asa karena hidup hanya untuk Tuhan. Ketika hidup dipasrahkan pada Tuhan, tak akan pernah mengalami putus asa karena kesengsaraan hidup. Lelaki itu menyuruh Martin untuk membeli Alkitab agar hidup Martin benar-benar untuk Tuhan.
 
Tak ayal, pagi hari dalam setiap degup Martin, hanya bayangan akan sosok Tuhan. Aktivitas Martin tak lain duduk di ambang jendela dan lebih banyak memandang keluar jendela dari pada bekerja. Setiap ada orang, ia melongok ke jendela. Banyak orang yang melewati rumahnya, tapi tak seorang pun yang berhenti, apalagi singgah.
 
Harapan untuk bertemu dengan Tuhan kembali menjadi pikiran Martin. Namun, orang kedua yang ada adalah seorang wanita dengan bayi di gendongannya yang tampak kedinginan, tak mampu melindungi anaknya. Maka, Martin mengundang wanita itu masuk untuk menghangatkan diri. Hidangan roti dan sup hangat menemani percakapan Martin dan wanita itu. Dengan penuh kegetiran, wanita itu bertutur tentang kemalangan dirinya yang ditinggal suaminya perang hingga ia jatuh miskin, bahkan selendang untuk menghangatkan diri pun harus ia gadaikan.
 
Martin memberinya uang sekadarnya untuk bisa menebus kembali selendangnya, dan membekalinya mantel usang untuk dapat melindunginya dan si bayi dari kedinginan.
 
Hari itu ternyata berlalu dan tak mempertemukan Martin dengan sosok Tuhan. Yang ada hanya kejadian-kejadian kecil yang menuntut Martin untuk menolong penderitaan mereka. Cerita ini tentu mengajarkan kebajikan mulia. Dikemas dengan piawai, apik nan indah.
 
Buku ini adalah sebuah karya kitab klasik karya maestro sastra dunia, tak hanya melipur hati, tapi mencerahkan dan menusuk relung jiwa dengan menyadarkan bahwa Tuhan tak perlu dicari-cari, ia hadir dalam diri setiap orang yang membutuhkan. Setiap detik, menit, jam, hari, dan setiap saat. Maka bergantung pada diri kita, jika kita peka terhadap eksistensi Tuhan yang selalu menolong hambanya, kita akan selalu dibarengi cinta, bukan hanya cinta biasa, melainkan cinta spritual dari Tuhan.

*) Wildani Hefni, Pengelola Rumah Baca Pesma Darun Najah, IAIN Walisongo, Semarang. http://sastra-indonesia.com/2011/07/perjalanan-mencari-cinta-spritual/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aang Fatihul Islam Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Adam Roberts Adelbert von Chamisso Adreas Anggit W. Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus R. Sarjono Ahmad Farid Yahya Ahmad Yulden Erwin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Albert Camus Albrecht Goes Alexander Pushkin Alit S. Rini Amien Kamil Amy Lowell Andra Nur Oktaviani André Chénier Andy Warhol Angela Angela Dewi Angrok Anindita S. Thayf Anton Bruckner Anton Kurnia Anwar Holid Arif Saifudin Yudistira Arthur Rimbaud Arti Bumi Intaran AS Laksana Asep Sambodja Awalludin GD Mualif Axel Grube Bambang Kariyawan Ys Basoeki Abdullah Beethoven Ben Okri Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Berto Tukan BI Purwantari Birgit Lattenkamp Blaise Cendrars Book Cover Brunel University London Budi Darma Buku Kritik Sastra C.C. Berg Candra Kurnia Cecep Syamsul Hari Chairil Anwar Chamim Kohari Charles Baudelaire Claude Debussy Cristina Lambert D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Dana Gioia Daniel Paranamesa Dante Alighieri Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Dareen Tatour Darju Prasetya Darwin Dea Anugrah Denny Mizhar Diponegoro Djoko Pitono Djoko Saryono Dwi Cipta Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Edgar Allan Poe Eka Budianta Eka Kurniawan Emha Ainun Nadjib Emily Dickinson Enda Menzies Endorsement Ernest Hemingway Erwin Setia Essay Evan Ys Fahmi Faqih Fatah Anshori Fazabinal Alim Feby Indirani François Villon François-Marie Arouet (Voltaire) Frankfurt Book Fair 2015 Franz Kafka Franz Schubert Franz Wisner Frederick Delius Friedrich Nietzsche Friedrich Schiller Fritz Senn FX Rudy Gunawan G. J. Resink Gabriel García Márquez Gabriela Mistral Gerson Poyk Goenawan Mohamad Goethe Hamid Dabashi Hardi Hamzah Hasan Junus Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier Henry Lawson Hera Khaerani Hermann Hesse Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ignas Kleden Igor Stravinsky Imam Nawawi Indra Tjahyadi Inspiring Writer Interview Iskandar Noe Jakob Sumardjo Jalaluddin Rumi James Joyce Jean-Paul Sartre Jiero Cafe Johann Sebastian Bach Johannes Brahms John H. McGlynn John Keats José de Espronceda Jostein Gaarder Kamran Dikarma Katrin Bandel Khalil Gibran (1883-1931) Koesoema Affandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Koskow Kulya in the Niche of Philosophjy Laksmi Pamuntjak Laksmi Shitaresmi Lathifa Akmaliyah Laurencius Simanjuntak Leila S Chudori Leo Tolstoy Lontar Foundation Lorca Lord Byron Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lutfi Mardiansyah Luthfi Assyaukanie M. Yoesoef M.S. Arifin Mahmoud Darwish Mahmud Ali Jauhari Mahmudi Maman S. Mahayana Marco Polo Martin Aleida Mathori A Elwa Max Dauthendey Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Michael Kumpfmüller Michelangelo Milan Djordjevic Minamoto Yorimasa Modest Petrovich Mussorgsky Mozart Mpu Gandring Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Yasir Mulla Shadra Nenden Lilis A Nikmah Sarjono Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Notes Novel Pekik Nunung Deni Puspitasari Nurel Javissyarqi Octavio Paz Orasi Budaya Orhan Pamuk Pablo Neruda Panos Ioannides Patricia Pawestri Paul Valéry Paul van Ostaijen PDS H.B. Jassin Penerbit SastraSewu Percy Bysshe Shelley Pierre de Ronsard Poems Poetry Pramoedya Ananta Toer Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Setia Pyotr Ilyich Tchaikovsky R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Radhar Panca Dahana Rainer Maria Rilke Rakai Lukman Rama Dira J Rambuana Read Ravel Rengga AP Resensi reviewer RF. Dhonna Richard Strauss Richard Wagner Ridha al Qadri Robert Desnos Robert Marcuse Ronny Agustinus Rosalía de Castro Ruth Martin S. Gunawan Sabine Müller Samsul Anam Santa Teresa Sapardi Djoko Damono Sara Teasdale Sasti Gotama Saut Situmorang Schreibinsel Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Short Story Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Solo Exhibition Rengga AP Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Stefan Zweig Stefanus P. Elu Subagio Sastrowardoyo Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri T.S. Eliot Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Tengsoe Tjahjono Thales The World Readers Award Tito Sianipar Tiya Hapitiawati To Take Delight Toeti Heraty Tunggul Ametung Ulysses Umar Junus Unknown Poet From Yugoslavia Usman Arrumy Utami Widowati Vladimir Nabokov W.S. Rendra Walter Savage Landor (1775-1864) Watercolour Paint Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Welly Kuswanto Wildani Hefni William Blake William Butler Yeats Wizna Hidayati Umam World Letters X.J. Kennedy Yasraf Amir Piliang Yasunari Kawabata Yogas Ardiansyah Yona Primadesi Yuja Wang Yukio Mishima Z. Afif Zadie Smith Zeynita Gibbons