Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 September 2021

ANTI-MUAL MACONDO©FORTE DARI RONNY AGUSTINUS

Dwi Pranoto *
 
“Tak seorangpun menulis untuk tulisan itu sendiri, tak seorang pun ngomong sekedar untuk omongan itu sendiri”. (Sismondi dalam Jacques Ranciere, Mute Speech, 2011)
 
Aku tidak punya ketertarikan khusus terhadap sastra Amerika Latin. Namun bukan bararti aku tidak membaca karya sastra Amerika Latin, meskipun hampir semua karya sastra Amerika Latin yang pernah aku baca, aku baca lewat terjemahan Bahasa Indonesianya. Paling tidak ada dua novel Amerika Latin yang saat mulai menulis ini aku ingat secara samar-samar, novel tentang tukang kaca di jalanan tandus Guadalajara dan buku harian seorang narapidana yang meringkuk di penjara Badajoz.

Senin, 23 Agustus 2021

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto *
tempointeraktif.com
 
BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah “inti”-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan.

GASTROKRITIK SASTRA: KAJIAN SASTRA GASTRONOMIS

(GASTROCRITICISM: GASTRONOMIC LITERARY STUDIES)
 
Djoko Saryono *
 
/1/
Sampai sekarang pada umumnya masyarakat atau kita memandang boga dan puisi-fiksi merupakan dua dunia yang berbeda, bahkan terpisah sangat jauh, yang mustahil bertemu, apalagi bersatu bahu-membahu. Dunia boga merupakan urusan tata boga dan ‘perut dan mulut’, sedangkan dunia puisi-fiksi merupakan urusan seni atau sastra dan ‘rasa dan jiwa’. Di samping itu, dunia boga ditempatkan sebagai bagian gastronomi, sedangkan dunia puisi-fiksi ditempatkan sebagai bagian teori sastra atau kritik sastra. Tak heran,

Inovasi dalam Cerpen Koran

Nenden Lilis A *
kompas.com
 
NIRWAN Dewanto, pada periode 90-an, sempat memuji cerpen koran, “Harus kita akui, bahwa cerpen-cerpen terbaik di Indonesia selama lima tahun terakhir muncul di Kompas dan Matra, bukan di Horison.” (lihat Pengantar Nirwan Dewanto dalam Pelajaran Mengarang, Cerpen Pilihan Kompas 1993). Dalam pengantar yang sama, melihat kondisi cerpen koran pada saat itu, Nirwan pun sempat berkomentar bahwa ruang cerpen di surat kabar, betapa pun terbatas, menyediakan potensi penyegaran sastra yang tidak kecil.

Adakah ‘Bangsa’ dalam Sastra? *

Nirwan Dewanto **
korantempo.com
 
Karya-karya sastra Indonesia yang terbaik tak menggambarkan tokoh-tokoh lurus, utuh, positif, yang dapat menjadi teladan masyarakat luas.
 
Bahkan dalam prosa realis pun, termasuk karya yang menjadi santapan politik masyarakat luas, keteladanan itu hampir absen, terutama bila kita menggunakan kaidah moral dan agama. Ada juga novel yang menubuhkan cita-cita sosial ke dalam tokoh yang positif, heroik, namun novel demikian biasanya novel khotbah yang menjemukan.

Menegasi Indentitas Sastra Indonesia

Damhuri Muhammad *
Republika
 
Corak historiografi kesusastraan Indonesia modern yang masih berpijak dan bertolak dari ‘asal muasal’ dan pendekatan teleologis, memang sudah amat melelahkan dan terlalu banyak menguras tenaga dan pikiran. Sebagian pemerhati sastra mulai pesimis, kehilangan gairah, bahkan apriori.
 
Nirwan Dewanto, dalam esainya (Kompas, 4/3/2000) mempertanyakan, masih perlukah sejarah sastra? Ini mencerminkan ketidakpercayaannya pada konstruk sejarah yang ditegak-berdirikan tanpa ‘kesadaran sejarah’ itu sendiri. Sejarah sastra yang ‘penuh lupa’ atau sengaja lupa berkepanjangan.

Komentar Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Nobel

Z. Afif
 
Seingat saya pada tahun 1991 di Swedia terbit terjemahan Bumi Manusia Pramudya Ananta Toer dalam bahasa Swedia. Penterjemahnya seorang wanita keturunan Belanda kelahiran Surabaya dan menetap di Swedia. Dia adalah ibu kandung pengarang novel dan drama Agneta Pleijel, seorang Profesor bidang sastra dan filsafat. Ketika itu dia menjadi Ketua Pen-Club Swedia. Saat itu sastrawati Marianne Katoppo datang ke Swedia dan bertemu juga dengan Rondang Erlina Marpaung, mantan wartawan Sulindo dan salah seorang redaktur Berita Minggu di Jakarta sebelum kudeta militer atas pemerintah Sukarno. Marianne teman baik Agneta.

Sabtu, 21 Agustus 2021

REALITAS-FIKSIONAL OLENKA -BUDI DARMA *

Maman S. Mahayana **
 
Syahdan, menurut para pandita sastra, sastra kerap dirubung ketegangan antara tradisi dan inovasi, antara konvensi dan eksperimentasi. Tarik-menarik dua kekuatan itulah yang menjadikan sastra dan dalam pengertian yang lebih luas, kesenian, kebudayaan, menggelinding menghancurkan sakralitas tradisi, sehingga menghasilkan karya-karya inovatif. Ketegangan itu pula yang memaksa terjadinya tabrakan yang lalu melahirkan karya-karya eksperimental. Begitulah dalam sejarah kesusastraan dan kesenian di belahan dunia mana pun ketegangan itu sering kali menghadirkan benturan keras yang berakibat lahir, tumbuh, dan berkembangnya kesusastraan sejalan dengan tuntutan dan perubahan zaman. Semangatnya adalah merengkuh capaian-capaian estetik. Tanpa itu, perjalanan kesusastraan akan mandek, stagnan, dan mati rasa.

Sabtu, 14 Agustus 2021

Lorca dan Magi Puisi

Angela
korantempo.com
 
Karya Lorca memadukan unsur tradisional dan tema kontroversial.
 
Sekali waktu, Joko Pinurbo, penyair sederhana yang disayangi banyak orang, pernah berkata tentang puisi. “Kerja bermalam-malam membangunkan alam bawah sadar, mencatat kehidupan sekeliling, memain-mainkan kata, memadukan paradoks dan ironi dengan usaha keras luar biasa”. Dan setelah itu menyihir pembacanya.

Fiksi dan Semiotika Umberto Eco

Anwar Holid *
Pikiran Rakyat, 19 Juli 2008
 
UMBERTO Eco merupakan salah seorang novelis kontemporer paling terkemuka di dunia. Novelnya The Name of the Rose legendaris dan mengukuhkan dirinya sebagai penulis utama sastra posmodern. Sebagai bestseller terbitan 1983 di Italia, buku itu masih mudah dijumpai dan jadi salah satu standar fiksi jenis thriller. Hampir semua kritik mengakui bahwa The Name of the Rose merupakan karya dia yang paling terkenal sekaligus enak dinikmati, sebab novel itu bisa tampil sebagai karya yang bermanfaat dan menghibur pembaca.

Kota, Waktu, Puisi

Goenawan Mohamad
kompas.com
 
Perlu ada imajinasi arsitektural yang hendak merayakan nostalgia sebagai kesadaran puitis tentang masa lalu yang intim. Dengan demikian, sebuah kota membutuhkan sebuah “sajak panjang” dan tak hanya harus didirikan dengan ketidaksabaran.
 
Agaknya ada hubungan yang tersembunyi antara kesusastraan Indonesia, kota, dan sejarah. Hubungan itu tidak lazim dibicarakan, namun sebenarnya bukan sesuatu yang luar biasa jika kita ingat akan Revolusi Agustus, ketika dari Jakarta “Indonesia” dimaklumkan, dan sebuah negara-bangsa berangkat dari pertengahan abad ke-20. Dalam suasana itu dorongan kreatif-dan juga ketegangan-terbit di Jakarta dalam bentuk semangat modernisme.

Terjerembap dalam Budaya Human Material

Hardi Hamzah *
lampungpost.com
 
Dalam siklus kebudayaan global, secara klasik kita mengenal proses sentrifugal yang diliputi semangat human material. Human material, suatu bentuk anarkistis manusia untuk mencari nafkah tanpa mengindahkan kaidah-kaidah norma.
 
DALAM filsafat Aufklarung hal ini disebut sebagai “merengkuh” dunia tanpa etika. Bahkan, para antropolog modern melihatnya sebagai terma-terma “kebuasan” makhluk manusia dalam menapaki hidup.

Kota, Sejarah, Nostalgia

Sunlie Thomas Alexander *
jawapos.com
 
SETIAP kota tentu punya riwayat. Yang getir, penuh haru biru, heroik, maupun samar seperti kabar angin sesayup sampai. Ketika melihat foto lama sebuah kota, misalnya, tentu beragam ”perasaan” bisa hadir. Sebagian kita yang memiliki ikatan emosional dengan kota tersebut bakal terbuai nostalgia: kenangan manis, pun ingatan sedih. Namun, bagi yang tak punya tautan batin, selembar potret masa silam mungkin saja tetap menggelitik.

Jumat, 13 Agustus 2021

Membaca Dareen Tatour dan Saut Situmorang

: Karya Sastra Apa yang Tidak Politis?!
 
Muhammad Yasir
 
Bukankah ketika Hugo Chavez mengatakan kekagumannya terhadap Eduardo Galeano kepada wartawan bahwa “The Open Veins of Latin America adalah monumen dalam sejarah Amerika Latin kita. Buku ini memungkinkan kita untuk belajar sejarah, dan kita harus membangun sejarah ini!" menunjukkan bahwa karya Eduardo Galeano yang satu ini adalah politis untuk kepentingan peradaban Amerika Latin itu?! Bukankah buku yang diterbitkan pada tahun 1971 dan telah terjual lebih dari satu juta kopi di seluruh dunia, meskipun dilarang pada tahun 1970-an oleh pemerintah militer di Chili, Argentina, dan Uruguay

Kamis, 12 Agustus 2021

Cinta Paripurna Pablo Neruda

Abdul Aziz Rasjid
suarakarya-online.com
 
“Matilde: nama sebentuk tumbuhan, atau batuan, atau anggur,/ dari segala hal yang bermula di bumi, dan akhirnya: / kata yang di sana tumbuh fajar pertama yang membuka,/ yang di sana musim panas menyinari jeruk-jeruk yang rekah”.
 
Begitulah cara Pablo Neruda memanggil, menghikmati serta memuja nama istrinya dalam sebuah soneta. Sebuah nama yang dicinta memang bisa menghasilkan kejutan yang menyentak, menggaungkan sejumlah makna yang sangup menggedor pikiran dan selanjutnya menantang hasrat penyair untuk menuangkannya dalam kejelian untuk melakukan perambahan pengucapan, pemanfaatan kebebasan untuk menghasilkan daya pikat dalam bentuk puisi.

Drama dan Opera Chatterton

Hasan Junus
riaupos.co
 
BIASANYA seorang penyair dikenal sangatlah piawai menapis kata-kata sampai menjadi sesuatu wujud yang mulia dan terpilih lebih dari seorang prosateur atau penulis prosa mengutak-atik kata-kata. Karena itulah tiga di antara pengarang novel sejarah atau dalam bahasa Perancis disebut roman historique yang awal terdiri dari tiga orang penyair terkemuka yaitu Alfred de Vigny (1779-1863; penyair, dramawan), Victor Hugo (1802-1885) dan Thiophile de Gautier (1811-1872).

Malaikat Bernama Armagedon

Soeprijadi Tomodihardjo *
jawapos.com
 
KETIKA gereja berperan sebagai penggerak kekerasan terhadap para pembela kebebasan, Friedrich Schiller (1759-1805) justru tampil dengan mengambil sikap sebaliknya. Dia menjunjung tinggi kebebasan. Dalam sebuah analisis filosofisnya, sastrawan klasik Jerman itu berujar: ”Bagi umat manusia, tak ada sesuatu yang lebih hina daripada membiarkan diri menjadi korban kekerasan. Bahkan, siapa secara pengecut bertekuk-lutut di depan kekerasan, dia mencampakkan kemanusiaannya sendiri. Sebaliknya, siapa yang melakukan kekerasan terhadap sesama manusia, patut diragukan rasa kemanusiaannya.”

W.S. Rendra, Sang penyair dan sang panglima

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com
 
PADA suatu malam Agustus 1970 W.S. Rendra ditahan. Ia, bersama 10 orang lain, bersemadi di petak rumput di tengah Jalan Thamrin, Jakarta. Malam itu beberapa ratus mahasiswa menyiapkan secara massal aksi “Malam Tirakatan”, sementara gabungan pasukan bersenjata bermaksud menggagalkannya. Bentrokan kekerasan dikhawatirkan.

Penulis India Menjadikan Dunia Manusiawi

BI Purwantari
Kompas, 16 Sep 2006
 
Selain memiliki industri perbukuan yang merambah pasar dunia, India dikenal mempunyai banyak penulis dunia. Karya-karya mereka, selain dianggap turut mewarnai perkembangan kesusastraan atau pun bidang keilmuan lainnya, juga dilihat sebagai produk kebudayaan yang ikut mengubah dunia.

Sekali lagi tentang Artemio Cruz

Hasan Junus
riaupos.com
 
Seorang lelaki kaya sedang menunggu ajal tiba. Masih perlukah suatu nama? Baiklah! Nama lengkapnya Artemio Cruz. Sedang terbaring terlentang sekarat menunggu ajal tiba di atas ranjang kema tian di Meksiko. Ia sedang mengalami “nazak” atau “sakaratul maut”, suatu keadaan yang menjadikan manusia berada di titik didih kehidupan. Posisi duniawinya yang terakhir dikenal dengan gelar “Caudillo” yang artinya Sang Pemimpin. Dulu, dulu sekali, pada bagian awal kehidupannya ia cuma dikenal sebagai Artemio Si Tambi karena statusnya sebagai pesuruh di sebuah kantor.
A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aang Fatihul Islam Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Adam Roberts Adelbert von Chamisso Adreas Anggit W. Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus R. Sarjono Ahmad Farid Yahya Ahmad Yulden Erwin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Albert Camus Albrecht Goes Alexander Pushkin Alit S. Rini Amien Kamil Amy Lowell Andra Nur Oktaviani André Chénier Andy Warhol Angela Angela Dewi Angrok Anindita S. Thayf Anton Bruckner Anton Kurnia Anwar Holid Arif Saifudin Yudistira Arthur Rimbaud Arti Bumi Intaran AS Laksana Asep Sambodja Awalludin GD Mualif Axel Grube Bambang Kariyawan Ys Basoeki Abdullah Beethoven Ben Okri Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Berto Tukan BI Purwantari Birgit Lattenkamp Blaise Cendrars Book Cover Brunel University London Budi Darma Buku Kritik Sastra C.C. Berg Candra Kurnia Cecep Syamsul Hari Chairil Anwar Chamim Kohari Charles Baudelaire Claude Debussy Cristina Lambert D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Dana Gioia Daniel Paranamesa Dante Alighieri Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Dareen Tatour Darju Prasetya Darwin Dea Anugrah Denny Mizhar Diponegoro Djoko Pitono Djoko Saryono Dwi Cipta Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Edgar Allan Poe Eka Budianta Eka Kurniawan Emha Ainun Nadjib Emily Dickinson Enda Menzies Endorsement Ernest Hemingway Erwin Setia Essay Evan Ys Fahmi Faqih Fatah Anshori Fazabinal Alim Feby Indirani François Villon François-Marie Arouet (Voltaire) Frankfurt Book Fair 2015 Franz Kafka Franz Schubert Franz Wisner Frederick Delius Friedrich Nietzsche Friedrich Schiller Fritz Senn FX Rudy Gunawan G. J. Resink Gabriel García Márquez Gabriela Mistral Gerson Poyk Goenawan Mohamad Goethe Hamid Dabashi Hardi Hamzah Hasan Junus Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier Henry Lawson Hera Khaerani Hermann Hesse Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ignas Kleden Igor Stravinsky Imam Nawawi Indra Tjahyadi Inspiring Writer Interview Iskandar Noe Jakob Sumardjo Jalaluddin Rumi James Joyce Jean-Paul Sartre Jiero Cafe Johann Sebastian Bach Johannes Brahms John H. McGlynn John Keats José de Espronceda Jostein Gaarder Kamran Dikarma Katrin Bandel Khalil Gibran (1883-1931) Koesoema Affandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Koskow Kulya in the Niche of Philosophjy Laksmi Pamuntjak Laksmi Shitaresmi Lathifa Akmaliyah Laurencius Simanjuntak Leila S Chudori Leo Tolstoy Lontar Foundation Lorca Lord Byron Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lutfi Mardiansyah Luthfi Assyaukanie M. Yoesoef M.S. Arifin Mahmoud Darwish Mahmud Ali Jauhari Mahmudi Maman S. Mahayana Marco Polo Martin Aleida Mathori A Elwa Max Dauthendey Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Michael Kumpfmüller Michelangelo Milan Djordjevic Minamoto Yorimasa Modest Petrovich Mussorgsky Mozart Mpu Gandring Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Yasir Mulla Shadra Nenden Lilis A Nikmah Sarjono Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Notes Novel Pekik Nunung Deni Puspitasari Nurel Javissyarqi Octavio Paz Orasi Budaya Orhan Pamuk Pablo Neruda Panos Ioannides Patricia Pawestri Paul Valéry Paul van Ostaijen PDS H.B. Jassin Penerbit SastraSewu Percy Bysshe Shelley Pierre de Ronsard Poems Poetry Pramoedya Ananta Toer Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Setia Pyotr Ilyich Tchaikovsky R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Radhar Panca Dahana Rainer Maria Rilke Rakai Lukman Rama Dira J Rambuana Read Ravel Rengga AP Resensi reviewer RF. Dhonna Richard Strauss Richard Wagner Ridha al Qadri Robert Desnos Robert Marcuse Ronny Agustinus Rosalía de Castro Ruth Martin S. Gunawan Sabine Müller Samsul Anam Santa Teresa Sapardi Djoko Damono Sara Teasdale Sasti Gotama Saut Situmorang Schreibinsel Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Short Story Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Solo Exhibition Rengga AP Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Stefan Zweig Stefanus P. Elu Subagio Sastrowardoyo Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri T.S. Eliot Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Tengsoe Tjahjono Thales The World Readers Award Tito Sianipar Tiya Hapitiawati To Take Delight Toeti Heraty Tunggul Ametung Ulysses Umar Junus Unknown Poet From Yugoslavia Usman Arrumy Utami Widowati Vladimir Nabokov W.S. Rendra Walter Savage Landor (1775-1864) Watercolour Paint Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Welly Kuswanto Wildani Hefni William Blake William Butler Yeats Wizna Hidayati Umam World Letters X.J. Kennedy Yasraf Amir Piliang Yasunari Kawabata Yogas Ardiansyah Yona Primadesi Yuja Wang Yukio Mishima Z. Afif Zadie Smith Zeynita Gibbons