Senin, 23 Agustus 2021

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto *
tempointeraktif.com
 
BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah “inti”-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan.
 
Bertahun-tahun kemudian saya sadar, ketika itu saya tengah dan telah terpesona oleh nada tragis dan sentimental pada sajak-sajak Indonesia — mulai dari Amir Hamzah sampai para penyair tahun 1970-an — yang justru terjadi karena sang aku telah memisahkan diri dan memberontak dengan serta-merta, aku yang menguasai “kenyataan” yang telah dimurnikan dari kenyataan sehari-hari.
 
Modernisme Indonesia, sebutlah demikian, telah memuncak dengan cara seperti itu. Saya, yang begitu tergoda oleh lirikisme Indonesia, tidak sampai pada penglihatan kritis pada sajak Paz itu. Untuk selanjutnya, Paz adalah nama yang menghilang dalam khazanah sastra yang saya jelajahi.
 
Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan lagi Octavio Paz sebagai bagian dari Amerika Latin, yakni faset yang melakukan reaksi terhadap modernisme Eropa. Dan reaksi itu, bagaimanapun serunya, dilakukan baik setelah percumbuan maupun pertarungan dengan Eropa.
 
Ada banyak cara untuk memahami modernisme, namun yang ingin saya kutip adalah diktum Immanuel Kant: pengetahuan, atau pengertian, tidak menurunkan hukum-hukumnya dari, melainkan memaksakannya pada, alam.
 
Diktum inilah yang dipraktekkan, secara terang-terangan maupun terselubung, oleh ekonomi, politik, dan seni modern. Inilah juga sisi tersembunyi dari humanisme — terbit dan terang-benderangnya akal budi (rasio, reason).
 
Dan humanisme mempunyai konsekuensi logis: penaklukan, yakni penaklukan terhadap yang hadir di luar aku: alam. Yang disebut kemudian sebagai Dunia Ketiga — emas, rempah-rempah, manusia kulit berwarna, eksotisme — adalah bagian dari alam.
 
Pengetahuan dan kekuasaan adalah dua sisi sebuah mata uang. Penaklukan Amerika Latin dibungkus dengan eufemisme Eropa: bahwa benua itu adalah sebuah Dunia Baru.
 
Beratus-ratus tahun setelah mata Eropa terbuka pada Asia, Amerika Latin bukan saja sebuah wilayah yang teramat jauh, melainkan tak dikenal sama sekali. Amerika Latin adalah sebuah kenyataan dalam dirinya sendiri, yang harus dilahirkan oleh manusia Eropa sebagaimana kaidah-kaidah ilmu pengetahuan: ia lebih merupakan invention daripada discovery, kata sejarawan Edmundo O’Gorman.
 
Kebudayaan Indian Pra-Kolombia sebelum masa kolonialisme adalah kebudayaan yang paling murni dalam sejarah kemanusiaan, karena ia terisolasi selama ribuan tahun oleh dua lautan besar: ia ada untuk dirinya sendiri, tidak dikalahkan dan tidak menaklukkan. Ia tidak mengenal sesuatu di luar dirinya, yakni yang lain (the other, otherness). Inilah benih kehancuran yang dikandungnya sendiri, karena Dunia Baru adalah otherness bagi Eropa.
 
Penaklukan bukanlah kejahatan, demikian menurut pikiran sadar Eropa, melainkan penyebaran sabda Tuhan dan akal budi. Pertemuan antara si penakluk dan si tertakluk adalah kenyataan yang fantastis bagi yang pertama namun pembalasan dendam ilahiah bagi yang terakhir.
 
Amerika Latin terhukum untuk menjadi utopia Eropa. Orang-orang Spanyol, kata Pablo Neruda, mengambil emas kita, tapi kita mendapatkan emas mereka: kata-kata. Marilah kita urai kata-kata penyair Cile itu. Dengan kedatangan para conquistadores kebudayaan Pra-Kolombia hancur sama sekali kecuali artifak-artifaknya.
 
(Bandingkan dengan, misalnya, pertemuan antara Jawa dan Islam, atau Jawa dan Belanda.) Pun kolonialisme Spanyol tidak merekayasa salah satu bahasa pribumi untuk mempersatukan wilayah jajahan mereka. (Marilah kita ingat bahwa Belanda, karena alasan-alasan obyektif, telah merekayasa politik bahasa, yakni menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi.
 
Dan modernisme Indonesia berawal ketika politik bahasa itu mencapai kematangannya.) Dengan itu Amerika Latin menghubungkan sekaligus mempertentangkan dirinya terhadap Eropa. Itulah hubungan yang tidak perlu lagi dinyatakan secara normatif, misalnya dengan menyatakan “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” seperti dalam Surat Kepercayaan Gelanggang.
 
Bahasa Spanyol (dan bahasa Portugis di Brasil), dalam penggunaannya oleh para pengarang Amerika Latin bagaikan cermin bagi sejarah yang koyak moyak oleh penaklukan dan kekalahan, sejarah yang harus menghancurkan dirinya sendiri dan kemudian bangkit lagi dari abu reruntuhannya seperti burung phoenix.
 
Bertahun-tahun lalu, mungkin pada masa cinta pertama saya dengan sastra, saya meyakini bahwa karya sastra adalah sesuatu yang direbut oleh pengarangnya dari kenyataan, yakni dengan jalan menghancurkan kenyataan itu terlebih dulu. Dengan kata lain: sebuah tour de force dari pengarangnya, kombinasi bakat dan teknik yang leluasa — hampir-hampir bersifat ilahiah — untuk merebut inti kenyataan, yakni bagian terdalam kenyataan yang tak tersentuh oleh hal-hal di luar sastra.
 
Pengarang dan penyair menempati posisi sangat khusus, dan akibatnya, sang aku dalam karya sastra, meski sering bersifat tragik dan absurd, tetaplah pusat dan penguasa benda-benda. Kritik sastra rupanya juga terseret oleh kepercayaan ini: ia hanya ingin mengusut dari mana imajinasi berasal dan bagaimana imajinasi bekerja. Mungkin inilah pukulan pertama bagi saya dari modernisme Indonesia. Sampai saya menerima “pelajaran” tentang imajinasi dari halaman pertama novel Seratus Tahun Kebisuan.
 
Bertahun-tahun kemudian, ketika Kolonel Aureliano Buendia menghadapi regu tembak, ia terkenang akan sebuah sore yang jauh tatkala ia bersama ayahandanya menyaksikan es untuk pertama kali. Ketika itu Macondo adalah sebuah desa dengan dua puluh rumah batu bata, terpacak di tepi sungai teramat jernih yang dasarnya ditempati oleh batu-batu berwarna putih, berkilauan dan besar-besar seperti telur-telur zaman purba.
 
Dunia seakan baru saja diciptakan sehingga segala sesuatu belum mempunyai nama, dan untuk menyebut suatu benda, orang harus langsung menunjuknya. Imajinasi bukanlah pembebasan serta-merta. Melalui novel Gabriel Garcia Marquez itu kita memperoleh beberapa pelajaran. Pertama, si tokoh justru terseret oleh masa lalunya, yakni sejarahnya yang kongkret, bukan sejarah yang dinyatakan oleh yang lain — justru pada saat paling gawat, saat hukuman matinya.
 
Meskipun kita selalu kehilangan kesempatan untuk merumuskan kapan hukuman mati itu dilaksanakan. Di sini, waktu adalah irama yang berdetak dalam diri kita. Seseorang hampir mati, dan kenyataan menjadi hidup pada saat itu juga. Kedua, manusia dan benda mulai pada posisi yang sama: kenyataan adalah sesuatu yang dikenali, bukan terberi. Namun kemudian kita tahu, penduduk Macondo — miniatur Amerika latin — tidaklah leluasa berbuat demikian, karena tanpa mereka maui mereka diperkenalkan dengan temuan-temuan dari Eropa: magnet, suryakanta, es, dan kemudian jalan kereta api dan partai politik.
 
Di sini sejarah adalah penguasaan oleh yang lain. Penamaan mereka terhadap benda-benda ditelikung oleh temuan-temuan Eropa, yang jika diperlakukan dengan perilaku murni mereka justru membuat mereka kandas. Inilah kesepian (soledad) Amerika Latin, karena pengenalan tergerus oleh penaklukan. Bukan saja kesepian, tetapi labirin kesepian, atau seratus tahun kesepian, yakni saat menunggu kesempatan kedua di bumi, jika sejarah hanyalah surga bagi Eropa.
 
Namun, jika pengenalan bisa dilakukan, yakni jika sejarah menjadi bagian dari eksistensi mereka, berlangsunglah penghancuran, dan mereka harus mulai dari awal lagi. Terceriteralah kemudian dalam novel itu, bahwa setelah terserang wabah insomnia, seluruh penduduk Macondo hilang ingatan, sehingga Aureliano Buendia harus menyelamatkan mereka: ia menulisi benda-benda dengan nama mereka semula: meja, kursi, jam, dinding, ranjang, sapi, kambing, babi, ayam. Dan: Pada permulaan jalan menuju rawa-rawa mereka memasang papan bertuliskan MACONDO dan sebuah papan lebih besar lagi di jalan utama bertuliskan TUHAN MASIH ADA.
***
 
JELASLAH tidak ada tradisi yang diterima dengan serta-merta. Tradisi adalah himpunan pecahan-pecahan yang tersembunyi di bagian tak sadar, menunggu kesempatan untuk meledak, menunggu saat diberi nama. Meksiko, dan Amerika Latin secara umum, semenjak saat kemerdekaannya, masih terus bergulat dengan masa lampaunya.
 
Meksiko, yang dalam kesaksian Carlos Fuentes, telah lahir sebanyak tiga kali. Kelahiran pertama ditebus dengan hancurnya kebudayaan Pra-Kolombia, yakni kelahiran kolonialisme. Kelahiran kedua, pembebasan dari Spanyol, dan Meksiko adalah bandul yang bergerak antara Amerika Serikat dan Prancis. Ideologi universal yang dipercaya sebagai kekuatan yang lain hanyalah topeng bagi luka-luka Meksiko yang lama. Kelahiran ketiga adalah Revolusi Meksiko pada awal abad ini.
 
Orang-orang Meksiko mengenal satu sama lain dalam letupan kesadaran akan kami — sebuah nasionalisme romantik. Cita-cita revolusi kandas oleh momentum Amerika Serikat: negeri utara itu menancapkan diri sebagai sisi lain Meksiko. Paz, lebih dari sekadar pribadi, adalah sebuah faset dalam pencarian Meksiko.
 
Pada masa kanak ia telah terpesona pada artifak-artifak Pra-Kolombia, yakni seni yang dianggapnya paling enigmatik dan orisinal, karena ia bermula dan berakhir pada dirinya sendiri, tidak mengenal otherness.
 
Pada saat ia mulai menulis, Meksiko membakar Amerika Latin dengan gerakan seni rupa yang besar, yang mengiringi Revolusi: kaum muralis dan Rufino Tamayo.
 
Tak terlupakan adalah nyala api modernismo yang ditinggalkan Ruben Dario: bahwa bahasa Spanyol bukanlah terberi, tetapi media yang bebas merdeka bagi pengucapan Amerika Latin, artinya eksperimen harus dipercayai. Dan di depan Paz pula sosok para penyair Spanyol zaman Barok berdiri teguh. Ia pun tak menampik gaung teman-temannya, para penyair berbahasa Spanyol pada awal abad ini.
 
Saya ingin meletakkan Paz periode ini, dengan meminjam terma dari Julia Kristeva, dalam tahap semiotik, yakni suatu tahap pra-bahasa, tahap disintegrasi ketika pola-pola muncul tetapi tidak mempunyai identitas tetap: mereka kabur dan berubah-ubah.
 
Puisi-puisinya bagaikan celoteh atau melodi yang keluar dari mulut kanak-kanak. Dengan kata lain: citra dari ketidakstabilan tubuh. Paz bagaikan zone erotogenik yang gampang terpesona secara ekstrem ataupun acuh tak acuh sama sekali. Itulah keadaan perubahan yang permanen yang bahkan bisa menjurus ke penghilangan diri. Pokoknya tidak ada identitas yang pasti.
 
Inilah rangsangan untuk bersentuhan langsung dengan pusat-pusat kebudayaan dunia, upaya untuk membongkar posisi pinggiran. Dan Paz bersentuhan dengan surealisme secara aktual. Ia memasuki tahap maturasi: pencerminan akan kesadaran diri yang berhadapan dengan bahasa (bahasa di sini dipahami sebagai pola yang jelas dari tanda-tanda, dalam hal ini kepenyairan adalah bahasa.)
 
Surealisme, bagi Paz ketika itu, adalah gerakan seni terbesar yang terakhir pada abad ini, adalah juga kesadaran yang menyadari adanya ketidaksadaran, atau rasio yang menganggap kegilaan bagian dari dirinya, dan dengan demikian adalah perlawanan terhadap masyarakat borjuis yang mapan, positif, tapi dekaden.
 
Pengalaman Paz yang pertama adalah pengalaman dengan yang disebutnya sebagai negasi dan disonansi. Modernisme tidak tertarik terhadap obyek-obyek, melainkan struktur obyek-obyek, karena obyek-obyek sudah dikorupsi oleh moralitas borjuis. Secara simultan pula, Paz menerima pengaruh dari paham-paham yang sudah surut: Blake, kaum Romantisis Inggris dan Jerman, kaum Simbolis Prancis.
 
Apakah ini artinya? Percumbuan dengan pusat-pusat kebudayaan dunia tidak dapat dianggap sebagai hal permanen karena ia, sekali lagi, sebagai satu faset Amerika Latin telah terbeban oleh trauma penaklukan dan kekalahan.
 
Bagaimana jika ia terbongkar sebagai yang lain padahal sesungguhnya ia ingin membongkar yang lain dalam rangka mengenali wujudnya sendiri? Dan bagaimana jika yang lain itu justru terbongkar dalam dirinya sendiri, jika ia pulang?
 
Pertanyaan ini tidak saja menggoda Paz, tetapi juga Alejo Carpentier, Jorge Luis Borges, Pablo Neruda, Gabriel Garcia Marquez, Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan sejumlah pengarang lain yang melakukan kontak langsung dengan Eropa.
 
Maka, sampailah mereka di ambang reaksi terhadap modernisme Eropa. Dan bertahun-tahun kemudian Paz menulis: Seni modern adalah modern sebab ia kritis. Kini kita menyaksikan pembalikan: seni modern mulai kehilangan kekuatannya untuk melakukan negasi. Selama beberapa tahun ini daya dobraknya tengah menjadi pengulangan ritual: pemberontakan jadi prosedur, kritik menjadi retorik, perlawanan jadi upacara. Negasi tidak lagi kreatif.
 
Saya tidak berkata bahwa kita hidup di akhir seni: kita hidup di akhir gagasan (tentang) seni modern. Beratus-ratus tahun lamanya Eropa menjadi pusat kebudayaan dunia karena ia mempercayai Rene Descartes. Bahwa pusat dari segala-galanya adala cogito atau kesadaran.
 
Pernyataan Kant yang telah saya kutip menyempurnakan kepercayaan Cartesian ini. Dilihat dari sudut pandang Eropa sendiri, ini adalah pembebasan dari kegelapan epistemologis, yang berarti juga humanisasi.
 
Penaklukan dilihat dalam kerangka bahwa humanisasi harus mendunia. Cogito melihat sesuatu di luar dirinya sebagai yang harus ditaklukkan. Tetapi, apakah penaklukan total terjadi? Kemungkinan besar tidak, karena cogito pada akhirnya dirongrong oleh yang tidak disadarinya, yakni basis ekonomi (Marx), ketidaksadaran (Freud), dan bahasa (Saussure).
 
Namun, posisi antara pusat dan pinggiran sudah telanjur terjadi. Dan seni Eropa adalah anak dari kepercayaan Cartesian. Ia menegaskan posisi puncak sang aku: memuntahkan diri dengan spontan (romantisisme), menahan diri untuk menguasai detail (realisme), dan pada akhirnya mengatakan bagaimana ia terancam keretakan.
 
Di sinilah ide modernisme mulai. Dengan penemuan Marx dan Freud, seni (yang menjadi) modern berusaha membongkar kenyataan yang menyelubungi konflik ekonomi dan konflik erotik: berusaha menemukan secercah “kebenaran”. Namun jika “kebenaran” itu ada, ia tak berguna.
 
Di sinilah dua anak kandung kepercayaan Cartesian, yakni seni modern dan kapitalisme, menempuh dua jalur berbeda dan akhirnya bertentangan prinsip satu sama lain: sebuah kontradiksi budaya dalam kapitalisme.
 
Jika modernisme dipahami sebagai puncak pemujaan — dan kebangkrutan — cogito, ada dua jalan reaksi yang ditempuh oleh Paz dan generasinya. Jalan pertama, seperti yang dilakukan oleh Gabriel Garcia Marquez, ketika ia menyatakan bahwa Eropa adalah tawanan abstraksi-abstraksi. Eropa sudah terlalu lama, dan terlalu banyak, memberi nama. Dan nama-nama itu adalah bagian dari sejarahnya, yakni sejarah yang mencintai penaklukan.
 
Kami telah diajari untuk melupakan waktu asal-muasal kami, yakni waktu yang serta-merta, sirkular dan mitis atas nama waktu yang progresif dan irreversible demi masa depan yang terbatas, padahal itu adalah masa depan mereka. Kami adalah sejarah tersendiri: dalam diri kami terkandung pecahan-pecahan Eropa, yang harus dibaca dan ditulis kembali. Kami harus mulai lagi memberi nama-nama, karena pilihan yang lain hanyalah kematian.
 
Paling tidak ada dua kecaman yang dilancarkan ekstrem ini pada sastra Eropa. Novel-novel Eropa, terutama dari abad ke-19, hanya bermain di dalam kota dan rumah-rumah. Itu tak lain adalah penggambaran milik dan pemilikan pribadi yang, jika tak aman, memerlukan pahlawan untuk menyelamatkannya.
 
Jika sastra Eropa mengetengah alam di luar Eropa, yang mewadahi pertemuan antara manusia Eropa dan manusia kulit berwarna — sub-manusia — yang terjadi adalah eksploitasi kultur primitif demi penelanjangan diri. Maka, para penulis Amerika Latin itu menemukan Amerika Serikat sebagai cermin baru.
 
Mengapa? Mungkin, karena Amerika Serikat pada mulanya adalah juga utopia Eropa (ia, seperti halnya Amerika Latin, ditemukan oleh Eropa melalui Columbus), tetapi akhirnya ia mendahului Eropa dalam waktu progresifnya. Ia adalah anak reformasi, sementara Amerika Latin anak Kontra-Reformasi. Ia non-intelektual, ia Protestan, percaya pada pengaturan moral, dan tumbuh dari kota-kota kecil.
 
Modernisme di sana (tidak dalam isi, tapi dalam bentuk, demikianlah kata Daniel Bell) tidaklah merupakan konsekuensi dari filsafat, tetapi lebih merupakan reaksi terhadap fungsi, seperti yang terjadi dalam jazz dan fotografi.
 
Modernisme itu baru dipertegas ketika ia menerima orang-orang buangan: seniman dan cendekiawan Eropa antara dua perang dunia. Ia sangat berpengalaman dalam regionalisme (Melville, Cooper, Whitman), dan akhirnya yang melahirkan William Faulkner, yang pengaruhnya tak terelakkan dalam prosa Amerika Latin tiga dasawarsa ini.
 
Faulkner adalah eksperimentalis yang leluasa menggunakan pergantian dan penyejajaran berbagai sudut pandang namun dengan keterikatan yang kuat pada geografi (Yoknapatawpha County bagi Faulkner, Macondo bagi Garcia Marquez.)
 
Jalan kedua ditempuh oleh orang-orang seperti Jorge Luis Borges dan Octavio Paz. Bagi mereka, Eropa sudah pudar karena sudah melewati puncaknya, tetapi tak mungkin ditolak karena ia merupakan sejarah yang kongkret. Perjalanan ke Eropa adalah sebuah donquixotisme: sebuah perjalanan untuk melancarkaan kritik terhadap yang sudah dibaca di “rumah” dan yang di luar “rumah” dilihat sebagai kenyataan.
 
Seberapa layak kita memperlakukan Eropa, dan bagiannya, yang mana saja berarti untuk aktualisasi kita. Menulis berarti menuliskan kembali. Para literati Eropa adalah kawan kita menulis. Amerika Latin dan Eropa mestilah sama-sama bercermin.
 
Di sini anggapan tentang pusat kebudayaan dengan sendirinya ditolak. Teks Eropa harus dibongkar dan dituliskan kembali. Borges membongkar dan menuliskan lagi, misalnya, teks Cervantes dan Dante.
 
Setiap penulis menciptakan sendiri para pendahulunya, dan karyanya mengubah masa lampau sebagaimana masa depan, demikianlah kata Borges. Maka, identitas dimengerti sebagai suatu penggandaan: suatu kesadaran yang terurai menjadi yang membaca (dan menulis) dan yang dibaca (ditulis).
 
Dengan demikian, posisi aku yang original, yang menguasai secara tunggal berbagai sumber teks, ditolak. Sastra bukanlah sebuah kategori yang agung, karena posisi pusat pengarang dibongkar. Seni modern adalah kegilaan yang (menjadi) bijak, kata Paz.
***
 
KONTAK Paz dengan salah satu puncak modernisme, yakni surealisme, ibarat mengoyak lagi psike dari sejarah Amerika Latin. Seandainya surealisme hanyalah sekadar teknik yang bisa dipakai, mungkin Paz tidak akan merelakan kejatuhan modernisme. Namun sejarah Amerika Latin adalah kenyataan yang sureal, seperti contoh-contoh berikut ini.
 
Raja Aztec Mentezuma mengira Hernan Cortez si Penakluk adalah Dewa Quetzalcoatl yang membalas dendam. Sebelas ribu ekor keledai masing-masing mengangkut seratus pon emas meninggalkan Cuzco pada suatu hari untuk membayar upeti pada Raja Atahualpa namun mereka tak pernah sampai ke tujuan.
 
Jenderal Antonio Lopez de Santana — diktator Meksiko tiga kali — mengadakan upacara pemakaman besar -besaran untuk kaki kanannya yang hilang dalam sebuah perang.
 
Sastra Amerika Latin mulai dengan kronik-kronik yang ditulis oleh orang-orang Spanyol dan Mestizo pertama yang berada di Meksiko pada masa penaklukan dan sesudahnya. Maka, suatu psychic automatism seperti yang dipraktekkan kaum surealis adalah suatu pembebasan dari kesadaran aku untuk menjadi yang lain.
 
Dalam keadaan demikian khazanah Meksiko menjadi siap dihidupkan lagi. Meksiko dan Paz menjadi kita yang hadir pada wilayah yang lain, atau sebaliknya. Pada periode ini Paz menulis sajak-sajak panjang seperti Batu Matahari yang didasarkan pada bentuk kalender Aztec: tentang aku yang terpecah-pecah dan terserap oleh berbagai perbatasan dan tentang mitologi matahari Aztec.
 
Dalam sajaknya Kendi Pecah kita baca kalimat-kalimat ini: Kita mesti tidur dengan mata terbuka, kita mesti bermimpi dengan tangan-tangan kita, kita mesti bermimpi tentang sungai yang mencari alurnya sendiri, tentang matahari yang memimpikan semestanya sendiri, kita mesti bermimpi habis-habisan, kita mesti bernyanyi sampai nyanyian mencabuti akar, batang, reranting, burung-burung, bintang-bintang, kita mesti bernyanyi sampai impian di sisi orang yang tertidur membuahkan gandum merah-kuping kebangkitan, air keibuan, sumber di mana kita minum dan mengenal diri kita dan bangkit, sumber yang berkata bahwa kita adalah manusia, air yang bicara sendiri di malam hari dan memanggil nama kita, sumber kata-kata yang berkata aku, kau, ia, kita, di bawah pohon besar, patung hujan yang hidup, di mana kita mengucap kataganti dengan takjub, mengenal diri kita dan mempercayai nama-nama kita.
 
Kalimat-kalimat di atas tidak mempunyai kepastian subyek. Si subyek memecah karena ledakan kita dan mengalihkan diri pada benda-benda dan pada gilirannya terjadi yang sebaliknya: sebuah daur ulang. Suatu pengenalan dengan keretakan subyek: bahwa hal itu tidak dapat ditopengi melainkan harus dikenali dalam wacana. Kesadaran tergusur dari dominasinya sampai ia harus mengingat “yang dikatakan oleh darah, air pasang, tanah, dan tubuh dan kembali ke titik permulaan”.
 
(Sajak ini kurang lebih memperlihatkan pengaruh Tanah Gersang, satu bukti bahwa Paz dengan cepat menumpuk arsip-arsip kaum modernis Eropa dalam dirinya.) Dan di sini juga Paz sampai di ambang kritik terhadap modernisme. Mungkin lebih tepat dikatakan: suatu pembongkaran terhadap khazanah Eropa yang, karena melewati begitu banyak puncak, hanya meledak ke arah dalam (implosi).
 
Namun, dunia di luar Eropa mengalami hal yang justru karena ia mendefinisikan dirinya dari sudut pandang “pusat kebudayaan dunia”. Paz tidak memilih satu posisi diametral terhadap Eropa (dan Amerika Serikat). Yang ia lakukan adalah perjalanan keluar-masuk, menyaksikan dan menyentuh kulit Eropa yang mengelupas selapis demi selapis.
 
Memang, Paz menyaksikan yang kemudian dikatakan oleh Milan Kundera: “Jika Tuhan sudah pergi dan manusia bukan lagi tuan, lalu siapakah tuan kini? Bumi ini bergerak terus tanpa tuan. Itulah the unbearable lightness of being.” Eropa menjadi korban dari bobotnya sendiri, yakni penumpukan temuan-temuan atas dasar kepercayaan Cartesian, dan kini ia menginginkan pembongkaran atas dirinya sendiri.
 
Jika kaum (pasca)-strukturalis dan dekonstruksionis — sebagai faset Eropa — berupaya membongkar dan membalikkan tradisi filsafat aku karena Eropa sudah terlalu lama berkuasa, Paz, sebagai faset Meksiko yang pernah menjadi korban Eropa, hanyalah perlu melintasi fragmen-fragmen aku yang hadir serempak di mukanya untuk memastikan bahwa Meksiko adalah yang lain.
 
Demikianlah, penaklukan adalah risiko dari rekonsiliasi yang terlambat (orang-orang Aztec mengusir Quetzalqoatl, dan kemudian sang dewa menyamar sebagai penakluk berkuda dan bersenjata petir yang datang dari arah timur). Bertahun-tahun kemudian Paz pergi ke arah timur, ke India, dan ia berziarah ke Galta, sebuah kota kuno yang memuliakan Hanuman: Pada sebuah tebing batu pegunungan, Hanuman menulis Mahanataka, yakni kisah yang sama dengan Ramayana.
 
Valmiki membacanya, dan ia cemas jika karya Hanuman membayang-bayangi puisi besarnya. Ia memohon Hanuman untuk merahasiakan kisahnya kepada siapa pun. Dewa kera itu mengalah pada permintaan si penyair: ia pun menjebol pegunungan batu itu dan membenamkannya ke dasar laut. Maka tinta dan pena Valmiki adalah metafor bagi petir dan hujan yang telah digunakan Hanuman untuk menuliskan riwayat hidupnya.
 
Bagi Paz, Hanuman telah menghancurkan “teks”-nya agar Valmiki dapat menuliskannya lagi dengan leluasa. Hanuman adalah metafor bagi bahasa: bahwa bahasa mengatasi cara pengungkapan diri. (Prinsip ini menunjukkan kesejajaran dengan prinsip para penyair Simbolis yang menolak puisi sebagai ungkapan aku yang mengaku, the confessional I).
 
Di sini ingin juga ditunjukkaan bahwa tidak ada kesadaran yang mendominasi: Galta adalah jalan menuju Hanuman, Hanuman adalah jalan menuju Valmiki, Valmiki adalah jalan menuju puisi, dan Paz adalah jalan menuju Galta.
 
Kita menolak makna absolut yang pernah dianggap hadir dalam teks. Roland Barthes mengumumkan kematian pengarang karena ia sudah terlalu lama memerintah sejarah sastra. Karena pembaca harus lahir, yakni pembaca yang tanpa sejarah, riwayat hidup, dan psikologi.
 
Ada perbedaan penting: pengarang-nya Barthes harus dibunuh karena ia menempatkan diri sebagai pusat semenjak Abad Pertengahan, dan Hanuman-nya Paz menyingkir dengan sukarela karena ia tidak mungkin menulis di luar sejarah (ia telah menulis yang ilahiah untuk dirinya sendiri.)
 
Penyair bukanlah ia yang menamai benda-benda, tetapi ia yang menghapuskan nama benda-benda, seseorang yang menemukan bahwa benda-benda tidaklah mempunyai nama dan bahwa nama yang biasa kita sebut bukanlah milik mereka. Dengan menulis kita meniadakan benda-benda, kita mengubahnya menjadi makna: dengan membaca kita meniadakan tanda-tanda, kita memeras makna daripadanya, dan segera kita menghamburkan makna itu maka makna menjadi zat purbani.
 
Eropa telah menderita karena terlalu lama dan terlalu banyak memberi nama. Cogito telanjur mempercayai bahwa dirinya berjarak dari kenyataan dan mengira pengenalan dan penamaan adalah niat baik, padahal itu adalah kehendak untuk berkuasa.
 
Jika ia melawan kekuasaan atau tatanan yang mapan dari nama-nama, ia mengira dirinya berada di luar kekuasaan. Bertahun-tahun kemudian kepercayaan Cartesian (dan Kantian) ini dikhianati dari dalam.
 
Bukan cogito yang menjadi pusat dan membuat “pola besar dunia”, justru dialah yang dipolakan: ia bukan sebab melainkan akibat (Lacan) kekuasaan tidak terkonsentrasi, misalnya pada negara, tetapi terbagi secara halus, terkandung dalam praktek pengenalan, dalam wacana (Foucault).
 
Namun, jika jalan pikiran ini diterima begitu saja, Eropa akan sampai pada kontradiksi baru. Ia menolak pusat dalam dirinya sendiri, padahal ia telanjur menciptakan ketimpangan di dunia luar karena penaklukannya.
 
Dunia Ketiga jelas-jelas tersedot pada kekuasaan nama-nama, yang dikatakan dengan sopan sebagai “masyarakat informasi”. Maka, alternatif bagi si kulit berwarna adalah “menghapuskan nama benda-benda, menemukan bahwa benda-benda tidak mempunyai nama dan nama-nama yang kita sebut bukanlah milik mereka.”
 
Dalam konteks ini wacana bukanlah sebuah hermeneutika (tentang) kecurigaan. Karena aku bukan lagi tuan di rumah sendiri karena terkendali oleh pola yang tak disadarinya, melainkan penampakan aku di dalam yang lain atau penampakan yang lain di dalam aku, aku yang berusaha pulang, aku yang adalah “kita yang tak pernah tiba di tempat kita sekarang”.
 
Dalam sajak-sajaknya yang kemudian Paz memperlihatkan aku yang bening dan berlapis-lapis, selang-seling lapisan aku dan lapisan yang lain, yang saling memandang tanpa kekuasaan nama-nama. Seperti dalam sajak “Seteguk bayangan”:
 
Aku tengah di mana aku pernah: aku berjalan di belakang bisikan, langkah kaki dalam diriku, mendengar dengan mataku, bisikan berada dalam pikiranku, akulah langkah kakiku, aku mendengar suara-suara yang kupikirkan, suara-suara yang memikirkanku seperti aku memikirkan mereka, akulah bayangan yang dibentuk oleh kata-kataku.
 
Amerika Latin adalah tempat orang seperti para conquistadores, Charles Darwin, dan Claude Levi-Strauss merealisasikan dirinya. Ia adalah bahan yang menyumbang pada tradisi besar Eropa, mulai fajar sampai senja harinya, tanpa sadar.
 
Sebagai realisasi dari utopia Eropa, ia tetap ditempatkan di luar sebagai yang lain. Baru belakangan ia, melalui Paz dan generasinya, menyaksikan Eropa ingin membebaskan diri dari rasa bersalahnya — namun itu pun sebuah active forgetting of history. Karena sejarah bagi Eropa adalah penumpukan pengetahuan melalui kekuasaan atau sebaliknya, yakni suatu risiko dari Cartesianisme.
 
Bagi Paz dan generasinya, senjakala modernisme adalah kontradiksi antara dua anak sah dari kepercayaan Cartesian (dan Kantian): antara modernisme dan kapitalisme, dan modernisme harus bertekuk lutut, atau menerima akibat-akibat kapitalisme sebagai bagian dari eksistensinya.
 
Maka, akibat-akibat modernisme adalah bahan mentah bagi Amerika Latin. Sejarah bukanlah beban, bukanlah tradisi: mengenali sejarah adalah menerima diskontinuitas.
 
Sejarah menjadi paradoks, sebab Borges menulis juga sejarah, yakni sejarah tentang malam hari dan sejarah tentang keabadian. Sejarah adalah wabah insomnia (Garcia Marquez). Sejarah adalah aku — kenangan yang menemukan dirinya sendiri (Paz).
***

*) NIRWAN DEWANTO adalah penyair dan esais. Pernah belajar di Jurusan Geologi ITB, sampai tamat. Semasa mahasiswa, ia memimpin Grup Apresiasi Sastra ITB. Pernah bekerja di bidang eksplorasi perminyakan. Kini membaca, menulis, dan berjalan-jalan adalah kegiatan utamanya. http://sastra-indonesia.com/2010/07/octavio-paz-amerika-latin-dan-senjakala-modernisme/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aang Fatihul Islam Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Adam Roberts Adelbert von Chamisso Adreas Anggit W. Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus R. Sarjono Ahmad Farid Yahya Ahmad Yulden Erwin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Albert Camus Albrecht Goes Alexander Pushkin Alit S. Rini Amien Kamil Amy Lowell Andra Nur Oktaviani André Chénier Andy Warhol Angela Angela Dewi Angrok Anindita S. Thayf Anton Bruckner Anton Kurnia Anwar Holid Arif Saifudin Yudistira Arthur Rimbaud Arti Bumi Intaran AS Laksana Asep Sambodja Awalludin GD Mualif Axel Grube Bambang Kariyawan Ys Basoeki Abdullah Beethoven Ben Okri Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Berto Tukan BI Purwantari Birgit Lattenkamp Blaise Cendrars Book Cover Brunel University London Budi Darma Buku Kritik Sastra C.C. Berg Candra Kurnia Cecep Syamsul Hari Chairil Anwar Chamim Kohari Charles Baudelaire Claude Debussy Cristina Lambert D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Dana Gioia Daniel Paranamesa Dante Alighieri Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Dareen Tatour Darju Prasetya Darwin Dea Anugrah Denny Mizhar Diponegoro Djoko Pitono Djoko Saryono Dwi Cipta Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Edgar Allan Poe Eka Budianta Eka Kurniawan Emha Ainun Nadjib Emily Dickinson Enda Menzies Endorsement Ernest Hemingway Erwin Setia Essay Evan Ys Fahmi Faqih Fatah Anshori Fazabinal Alim Feby Indirani François Villon François-Marie Arouet (Voltaire) Frankfurt Book Fair 2015 Franz Kafka Franz Schubert Franz Wisner Frederick Delius Friedrich Nietzsche Friedrich Schiller Fritz Senn FX Rudy Gunawan G. J. Resink Gabriel García Márquez Gabriela Mistral Gerson Poyk Goenawan Mohamad Goethe Hamid Dabashi Hardi Hamzah Hasan Junus Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier Henry Lawson Hera Khaerani Hermann Hesse Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ignas Kleden Igor Stravinsky Imam Nawawi Indra Tjahyadi Inspiring Writer Interview Iskandar Noe Jakob Sumardjo Jalaluddin Rumi James Joyce Jean-Paul Sartre Jiero Cafe Johann Sebastian Bach Johannes Brahms John H. McGlynn John Keats José de Espronceda Jostein Gaarder Kamran Dikarma Katrin Bandel Khalil Gibran (1883-1931) Koesoema Affandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Koskow Kulya in the Niche of Philosophjy Laksmi Pamuntjak Laksmi Shitaresmi Lathifa Akmaliyah Laurencius Simanjuntak Leila S Chudori Leo Tolstoy Lontar Foundation Lorca Lord Byron Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lutfi Mardiansyah Luthfi Assyaukanie M. Yoesoef M.S. Arifin Mahmoud Darwish Mahmud Ali Jauhari Mahmudi Maman S. Mahayana Marco Polo Martin Aleida Mathori A Elwa Max Dauthendey Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Michael Kumpfmüller Michelangelo Milan Djordjevic Minamoto Yorimasa Modest Petrovich Mussorgsky Mozart Mpu Gandring Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Yasir Mulla Shadra Nenden Lilis A Nikmah Sarjono Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Notes Novel Pekik Nunung Deni Puspitasari Nurel Javissyarqi Octavio Paz Orasi Budaya Orhan Pamuk Pablo Neruda Panos Ioannides Patricia Pawestri Paul Valéry Paul van Ostaijen PDS H.B. Jassin Penerbit SastraSewu Percy Bysshe Shelley Pierre de Ronsard Poems Poetry Pramoedya Ananta Toer Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Setia Pyotr Ilyich Tchaikovsky R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Radhar Panca Dahana Rainer Maria Rilke Rakai Lukman Rama Dira J Rambuana Read Ravel Rengga AP Resensi reviewer RF. Dhonna Richard Strauss Richard Wagner Ridha al Qadri Robert Desnos Robert Marcuse Ronny Agustinus Rosalía de Castro Ruth Martin S. Gunawan Sabine Müller Samsul Anam Santa Teresa Sapardi Djoko Damono Sara Teasdale Sasti Gotama Saut Situmorang Schreibinsel Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Short Story Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Solo Exhibition Rengga AP Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Stefan Zweig Stefanus P. Elu Subagio Sastrowardoyo Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri T.S. Eliot Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Tengsoe Tjahjono Thales The World Readers Award Tito Sianipar Tiya Hapitiawati To Take Delight Toeti Heraty Tunggul Ametung Ulysses Umar Junus Unknown Poet From Yugoslavia Usman Arrumy Utami Widowati Vladimir Nabokov W.S. Rendra Walter Savage Landor (1775-1864) Watercolour Paint Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Welly Kuswanto Wildani Hefni William Blake William Butler Yeats Wizna Hidayati Umam World Letters X.J. Kennedy Yasraf Amir Piliang Yasunari Kawabata Yogas Ardiansyah Yona Primadesi Yuja Wang Yukio Mishima Z. Afif Zadie Smith Zeynita Gibbons