Maman S. Mahayana **
Syahdan, menurut para pandita sastra, sastra kerap dirubung ketegangan
antara tradisi dan inovasi, antara konvensi dan eksperimentasi. Tarik-menarik
dua kekuatan itulah yang menjadikan sastra dan dalam pengertian yang lebih
luas, kesenian, kebudayaan, menggelinding menghancurkan sakralitas tradisi,
sehingga menghasilkan karya-karya inovatif. Ketegangan itu pula yang memaksa
terjadinya tabrakan yang lalu melahirkan karya-karya eksperimental. Begitulah
dalam sejarah kesusastraan dan kesenian di belahan dunia mana pun ketegangan
itu sering kali menghadirkan benturan keras yang berakibat lahir, tumbuh, dan
berkembangnya kesusastraan sejalan dengan tuntutan dan perubahan zaman.
Semangatnya adalah merengkuh capaian-capaian estetik. Tanpa itu, perjalanan
kesusastraan akan mandek, stagnan, dan mati rasa.
the spaces of world figures, literature studies, new school of thought in the world of literature (art, letters, etc.)
Tampilkan postingan dengan label Maman S. Mahayana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maman S. Mahayana. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 21 Agustus 2021
Kamis, 27 Mei 2021
ESTETIKA CERPEN MELAYU SINGAPURA
Maman S. Mahayana *
Nama Suratman Markasan, bagi pembaca Indonesia, barangkali saja masih agak-agak asing. Sesungguhnya, sastrawan penting Singapura ini, sudah dikenal luas, setidak-tidaknya di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Riau. Ia termasuk salah seorang pemenang SEA Write Award yang diberikan tahun 1989. Penghargaan itu, tentu saja merupakan bukti prestasi kepengarangannya yang berdasar pada pertimbangan kualitas karya-karya yang telah dihasilkannya. Sedikitnya, enam penghargaan telah diberikan berbagai lembaga kepada karya-karya Suratman, baik yang berupa cerpen, puisi, atau novel.dan setakat ini, ia telah menghasilkan tiga novel, tiga kumpulan cerpen, dan dua kumpulan puisi, belum termasuk yang terhimpun dalam antologi-antologi bersama.
Nama Suratman Markasan, bagi pembaca Indonesia, barangkali saja masih agak-agak asing. Sesungguhnya, sastrawan penting Singapura ini, sudah dikenal luas, setidak-tidaknya di Malaysia, Singapura, Brunei, dan Riau. Ia termasuk salah seorang pemenang SEA Write Award yang diberikan tahun 1989. Penghargaan itu, tentu saja merupakan bukti prestasi kepengarangannya yang berdasar pada pertimbangan kualitas karya-karya yang telah dihasilkannya. Sedikitnya, enam penghargaan telah diberikan berbagai lembaga kepada karya-karya Suratman, baik yang berupa cerpen, puisi, atau novel.dan setakat ini, ia telah menghasilkan tiga novel, tiga kumpulan cerpen, dan dua kumpulan puisi, belum termasuk yang terhimpun dalam antologi-antologi bersama.
Sabtu, 22 Mei 2021
TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI
Maman S. Mahayana *
Sastra adalah catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu.Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau yang buruk; yang tersirat atau tersurat. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman, bahkan juga luka sejarah yang terjadi pada masa tertentu.
Sastra adalah catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu.Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau yang buruk; yang tersirat atau tersurat. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman, bahkan juga luka sejarah yang terjadi pada masa tertentu.
Kamis, 25 Februari 2021
SASTRA BANDINGAN: PINTU MASUK KAJIAN BUDAYA
STUDI KASUS ROMEO DAN JULIA, SONEZAKI SHINJU, UDA DAN DARA *
Maman S. Mahayana **
Ada dua hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan (comparative literature) sebagai sebuah disiplin ilmu. Pertama, persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan. Dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya, penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda menjadi pusat perhatian yang utama. Jadi, sebuah perbandingan dua karya atau lebih yang berasal dari dua negara, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan.
Maman S. Mahayana **
Ada dua hal yang sangat mungkin menjadi problem dalam sastra bandingan (comparative literature) sebagai sebuah disiplin ilmu. Pertama, persoalan yang menyangkut konsep sastra bandingan. Dalam banyak rumusan atau definisi sastra bandingan pada umumnya, penekanan perbandingan pada dua karya atau lebih dari sedikitnya dua negara yang berbeda menjadi pusat perhatian yang utama. Jadi, sebuah perbandingan dua karya atau lebih yang berasal dari dua negara, termasuk ke dalam wilayah sastra bandingan.
Kamis, 23 April 2020
NILAI BUDAYA DALAM CERITA RAKYAT KOREA-INDONESIA *
Maman S Mahayana *
/1/
Dibandingkan hubungan kebudayaan Indonesia-India, Indonesia-Cina, atau Indonesia-Jepang,1 hubungan kebudayaan Indonesia-Korea Selatan (selanjutnya disingkat Korsel), relatif baru terjadi belakangan.2 Tak begitu jelas, bagaimana hubungan kebudayaan kedua negara sebelum berakhir Perang Dunia Kedua. Tetapi setelah Korsel memulai pembangunan ekonomi dengan berbagai infrastrukturnya, serta mulai meningkatnya perkembangan dunia pendidikan, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) yang berdiri tahun 1954, membuka Department of Indonesian?Malay tahun 1964.3 Setelah hubungan Indonesia-Korsel meningkat, jalinan kerja sama kebudayaan dan kesusastraan, juga makin memperlihatkan kemajuan yang sangat berarti.4
/1/
Dibandingkan hubungan kebudayaan Indonesia-India, Indonesia-Cina, atau Indonesia-Jepang,1 hubungan kebudayaan Indonesia-Korea Selatan (selanjutnya disingkat Korsel), relatif baru terjadi belakangan.2 Tak begitu jelas, bagaimana hubungan kebudayaan kedua negara sebelum berakhir Perang Dunia Kedua. Tetapi setelah Korsel memulai pembangunan ekonomi dengan berbagai infrastrukturnya, serta mulai meningkatnya perkembangan dunia pendidikan, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS) yang berdiri tahun 1954, membuka Department of Indonesian?Malay tahun 1964.3 Setelah hubungan Indonesia-Korsel meningkat, jalinan kerja sama kebudayaan dan kesusastraan, juga makin memperlihatkan kemajuan yang sangat berarti.4
Sabtu, 28 Desember 2019
APA SIH, SASTRA INDONESIA
Maman S. Mahayana
Sebelum membincangkan lebih jauh tentang problematika sastra Indonesia, perlu kiranya merumuskan dahulu, apa sih, sastra Indonesia itu? Jika kita bersepakat dengan konsep, apa yang dimaksud sastra Indonesia, barulah kita meneroka lebih jauh ke tradisi yang melatarbelakanginya; apa yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri karya sastra itu termasuk sastra Indonesia; apa pula syarat yang menyertainya.
Sebelum membincangkan lebih jauh tentang problematika sastra Indonesia, perlu kiranya merumuskan dahulu, apa sih, sastra Indonesia itu? Jika kita bersepakat dengan konsep, apa yang dimaksud sastra Indonesia, barulah kita meneroka lebih jauh ke tradisi yang melatarbelakanginya; apa yang menjadi karakteristik atau ciri-ciri karya sastra itu termasuk sastra Indonesia; apa pula syarat yang menyertainya.
Langganan:
Postingan (Atom)
A. Syauqi Sumbawi
A.C. Andre Tanama
Aang Fatihul Islam
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Hadi W. M.
Adam Roberts
Adelbert von Chamisso
Adreas Anggit W.
Aguk Irawan MN
Agus B. Harianto
Agus R. Sarjono
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Yulden Erwin
Akhmad Sahal
Akhmad Sekhu
Albert Camus
Albrecht Goes
Alexander Pushkin
Alit S. Rini
Amien Kamil
Amy Lowell
Andra Nur Oktaviani
André Chénier
Andy Warhol
Angela
Angela Dewi
Angrok
Anindita S. Thayf
Anton Bruckner
Anton Kurnia
Anwar Holid
Arif Saifudin Yudistira
Arthur Rimbaud
Arti Bumi Intaran
AS Laksana
Asep Sambodja
Awalludin GD Mualif
Axel Grube
Bambang Kariyawan Ys
Basoeki Abdullah
Beethoven
Ben Okri
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshäuser
Berto Tukan
BI Purwantari
Birgit Lattenkamp
Blaise Cendrars
Book Cover
Brunel University London
Budi Darma
Buku Kritik Sastra
C.C. Berg
Candra Kurnia
Cecep Syamsul Hari
Chairil Anwar
Chamim Kohari
Charles Baudelaire
Claude Debussy
Cristina Lambert
D. Zawawi Imron
Damhuri Muhammad
Dana Gioia
Daniel Paranamesa
Dante Alighieri
Dante Gabriel Rossetti (1828-1882)
Dareen Tatour
Darju Prasetya
Darwin
Dea Anugrah
Denny Mizhar
Diponegoro
Djoko Pitono
Djoko Saryono
Dwi Cipta
Dwi Kartika Rahayu
Dwi Pranoto
Edgar Allan Poe
Eka Budianta
Eka Kurniawan
Emha Ainun Nadjib
Emily Dickinson
Enda Menzies
Endorsement
Ernest Hemingway
Erwin Setia
Essay
Evan Ys
Fahmi Faqih
Fatah Anshori
Fazabinal Alim
Feby Indirani
François Villon
François-Marie Arouet (Voltaire)
Frankfurt Book Fair 2015
Franz Kafka
Franz Schubert
Franz Wisner
Frederick Delius
Friedrich Nietzsche
Friedrich Schiller
Fritz Senn
FX Rudy Gunawan
G. J. Resink
Gabriel García Márquez
Gabriela Mistral
Gerson Poyk
Goenawan Mohamad
Goethe
Hamid Dabashi
Hardi Hamzah
Hasan Junus
Hazrat Inayat Khan
Henri de Régnier
Henry Lawson
Hera Khaerani
Hermann Hesse
Ibnu Rusydi
Ibnu Wahyudi
Ignas Kleden
Igor Stravinsky
Imam Nawawi
Indra Tjahyadi
Inspiring Writer
Interview
Iskandar Noe
Jakob Sumardjo
Jalaluddin Rumi
James Joyce
Jean-Paul Sartre
Jiero Cafe
Johann Sebastian Bach
Johannes Brahms
John H. McGlynn
John Keats
José de Espronceda
Jostein Gaarder
Kamran Dikarma
Katrin Bandel
Khalil Gibran (1883-1931)
Koesoema Affandi
Koh Young Hun
Komunitas Deo Gratias
Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias
Koskow
Kulya in the Niche of Philosophjy
Laksmi Pamuntjak
Laksmi Shitaresmi
Lathifa Akmaliyah
Laurencius Simanjuntak
Leila S Chudori
Leo Tolstoy
Lontar Foundation
Lorca
Lord Byron
Ludwig Tieck
Luís Vaz de Camões
Lutfi Mardiansyah
Luthfi Assyaukanie
M. Yoesoef
M.S. Arifin
Mahmoud Darwish
Mahmud Ali Jauhari
Mahmudi
Maman S. Mahayana
Marco Polo
Martin Aleida
Mathori A Elwa
Max Dauthendey
Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia
Michael Kumpfmüller
Michelangelo
Milan Djordjevic
Minamoto Yorimasa
Modest Petrovich Mussorgsky
Mozart
Mpu Gandring
Muhammad Iqbal
Muhammad Muhibbuddin
Muhammad Yasir
Mulla Shadra
Nenden Lilis A
Nikmah Sarjono
Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov
Nirwan Ahmad Arsuka
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Notes
Novel Pekik
Nunung Deni Puspitasari
Nurel Javissyarqi
Octavio Paz
Orasi Budaya
Orhan Pamuk
Pablo Neruda
Panos Ioannides
Patricia Pawestri
Paul Valéry
Paul van Ostaijen
PDS H.B. Jassin
Penerbit SastraSewu
Percy Bysshe Shelley
Pierre de Ronsard
Poems
Poetry
Pramoedya Ananta Toer
Pustaka Ilalang
PUstaka puJAngga
Putu Setia
Pyotr Ilyich Tchaikovsky
R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873)
Rabindranath Tagore
Radhar Panca Dahana
Rainer Maria Rilke
Rakai Lukman
Rama Dira J
Rambuana
Read Ravel
Rengga AP
Resensi
reviewer
RF. Dhonna
Richard Strauss
Richard Wagner
Ridha al Qadri
Robert Desnos
Robert Marcuse
Ronny Agustinus
Rosalía de Castro
Ruth Martin
S. Gunawan
Sabine Müller
Samsul Anam
Santa Teresa
Sapardi Djoko Damono
Sara Teasdale
Sasti Gotama
Saut Situmorang
Schreibinsel
Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shiny.ane el’poesya
Sholihul Huda
Short Story
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Siwi Dwi Saputro
Soeprijadi Tomodihardjo
Sofyan RH. Zaid
Solo Exhibition Rengga AP
Sony Prasetyotomo
Sri Wintala Achmad
Stefan Zweig
Stefanus P. Elu
Subagio Sastrowardoyo
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
T.S. Eliot
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Tengsoe Tjahjono
Thales
The World Readers Award
Tito Sianipar
Tiya Hapitiawati
To Take Delight
Toeti Heraty
Tunggul Ametung
Ulysses
Umar Junus
Unknown Poet From Yugoslavia
Usman Arrumy
Utami Widowati
Vladimir Nabokov
W.S. Rendra
Walter Savage Landor (1775-1864)
Watercolour Paint
Wawan Eko Yulianto
Wawan Pinhole
Welly Kuswanto
Wildani Hefni
William Blake
William Butler Yeats
Wizna Hidayati Umam
World Letters
X.J. Kennedy
Yasraf Amir Piliang
Yasunari Kawabata
Yogas Ardiansyah
Yona Primadesi
Yuja Wang
Yukio Mishima
Z. Afif
Zadie Smith
Zeynita Gibbons