M.S. Arifin
http://sastra-indonesia.com
[1]
Mantra Asmara: ‘Us(ma)n Arrumy dan (M.A) yang Merah’
Mantra Pembuka
Mendedahkan tinta, melumerkan rasa, menitipkan makna pada penggal kata, itulah menulis. Ia adalah kegiatan untuk meragukan sesuatu dengan berdasar keyakinan akan sesuatu. Menulis adalah upaya uzlah dari keramaian kata-kata menuju kesunyian rasa. Sebagaimana melukis, menulis berarti melakukan reka ulang apa yang sudah ada dalam alam pikir, alam rasa, alam hati. Apa yang kita pikirkan belum tentu menggambarkan apa yang kita rasakan. Tapi, apa yang kita rasakan tak pernah luput dari pikiran kita. Di sana, kita melihat bertemu dan menyatunya dua palung diri manusia sebagai tabiat yang niscaya. Dua palung itu adalah rasa (syu’ur) dan pikir (fikr).
http://sastra-indonesia.com
[1]
Mantra Asmara: ‘Us(ma)n Arrumy dan (M.A) yang Merah’
Mantra Pembuka
Mendedahkan tinta, melumerkan rasa, menitipkan makna pada penggal kata, itulah menulis. Ia adalah kegiatan untuk meragukan sesuatu dengan berdasar keyakinan akan sesuatu. Menulis adalah upaya uzlah dari keramaian kata-kata menuju kesunyian rasa. Sebagaimana melukis, menulis berarti melakukan reka ulang apa yang sudah ada dalam alam pikir, alam rasa, alam hati. Apa yang kita pikirkan belum tentu menggambarkan apa yang kita rasakan. Tapi, apa yang kita rasakan tak pernah luput dari pikiran kita. Di sana, kita melihat bertemu dan menyatunya dua palung diri manusia sebagai tabiat yang niscaya. Dua palung itu adalah rasa (syu’ur) dan pikir (fikr).