Sabtu, 21 Agustus 2021

REALITAS-FIKSIONAL OLENKA -BUDI DARMA *

Maman S. Mahayana **
 
Syahdan, menurut para pandita sastra, sastra kerap dirubung ketegangan antara tradisi dan inovasi, antara konvensi dan eksperimentasi. Tarik-menarik dua kekuatan itulah yang menjadikan sastra dan dalam pengertian yang lebih luas, kesenian, kebudayaan, menggelinding menghancurkan sakralitas tradisi, sehingga menghasilkan karya-karya inovatif. Ketegangan itu pula yang memaksa terjadinya tabrakan yang lalu melahirkan karya-karya eksperimental. Begitulah dalam sejarah kesusastraan dan kesenian di belahan dunia mana pun ketegangan itu sering kali menghadirkan benturan keras yang berakibat lahir, tumbuh, dan berkembangnya kesusastraan sejalan dengan tuntutan dan perubahan zaman. Semangatnya adalah merengkuh capaian-capaian estetik. Tanpa itu, perjalanan kesusastraan akan mandek, stagnan, dan mati rasa.
 
Jika Thomas Khun berbicara tentang paradigma ilmu pengetahuan yang berhadapan dengan situasi krisis dan anomali, atau Karl R Popper menempatkannya dalam kerangka problem -solving dengan segala trial and error-nya, maka dunia sastra -dan kesenian pada umumnya- berada dalam situasi ketegangan itu. Tujuannya menghasilkan capaian estetik. Jika capaian itu diterima masyarakat, ia akan ditempatkan sebagai konvensi (baru) dan karyanya akan menjadi monumen dalam perjalanan sejarah kesusastraan masyarakatnya.
 
Meskipun demikian, tentu saja usaha membangun monumen melalui inovasi dan eksperimentasi itu tidaklah semata-mata didasari oleh semangat asal beda dengan karya-karya sebelumnya; atau sekadar hendak menunjukkan gerakan pemberontakan pada konvensi dan tradisi. Selalu, di sana dituntut sebuah konsep estetik yang diusungnya. Dengan begitu, masyarakat akan dapat mengapresiasi gerakan pemberontakan itu, sebab, di belakangnya, ada estetika yang hendak ditawarkan. Jadi, inovasi dan eksperimentasi itu, tetap berada dalam koridor estetika.
 
Para pioner, seniman avant garde, atau mereka yang menempatkan kegelisahan sebagai tanda hidup adalah seniman yang memahami perkara harga kreativitas. Itulah semangat seniman sejati. Tanpa itu, ia hadir sekadar melengkapi karya-karya yang ada, dan senimannya cukup ditempatkan dalam senarai nama yang segera akan dilupakan orang. Ia gagal menyedot perhatian. Dan masyarakat pun sesaat itu cukup berkomentar sebagaimana yang sering kita dengar dari mulut Tino Sidin, “Bagus!”
***
 
Budi Darma mengawali langkah kakinya dalam pentas sastra Indonesia melalui antologi cerpennya, Orang-Orang Bloomington (Jakarta: Sinar Harapan, 1980) dan novel pertamanya, Olenka yang berhasil tampil sebagai pemenang pertama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1980. Novel ini kemudian diterbitkan Balai Pustaka tahun 1983 (261 halaman, cetakan IX, 2009). Memasuki dasawarsa tahun 1980-an itu, ketika gerakan estetik Angkatan 1970-an yang oleh Abdul Hadi WM dikatakan sebagai “kembali ke akar, kembali ke tradisi” masih memancarkan auranya. Kehadiran Budi Darma ketika itu, boleh juga diasumsikan masih sejalan semangat itu. Maka, dalam konteks perbincangan perjalanan sejarah novel Indonesia, tidak pelak lagi, Olenka, niscaya tidak dapat diabaikan, lantaran ia berada di dalamnya.
 
Meskipun begitu, baik Orang-Orang Bloomington, maupun Olenka, seperti tidak punya cantelan pada tradisi kultur etnik, sebagaimana yang jelas dinyatakan Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Kuntowijoyo, Putu Wijaya, bahkan juga Iwan Simatupang yang menjadi perintisnya. Budi Darma laksana melenggang sendiri dengan kisah-kisah di negeri asing dengan tokoh-tokoh asing di Bloomington dan sekitarnya. Di sinilah uniknya tempat Budi Darma, meski secara tematik, problem keterasingan dan kekosongan manusia bersifat universal. Maka, tokoh-tokoh yang diangkat Budi Darma, terutama dalam novel Olenka, seperti hendak merepresentasikan kegamangan manusia (modern) ketika kehidupan sering menciptakan peristiwa-peristiwa tidak terduga, ketika manusia diyakini sebagai misteri bagi dirinya sendiri. Keterasingan, alienasi, dan absurdisme adalah beberapa masalah yang dihadapi manusia modern. Jadi, dalam konteks itu, problem yang dihadapi tokoh-tokoh dalam Khotbah di atas Bukit -Kuntowijoyo, Ziarah -Iwan Simatupang, atau Telegram -Putu Wijaya, dapat pula kita jumpai pada Olenka.
 
Jika Olenka kemudian berhasil menyedot perhatian masyarakat sastra Indonesia, lalu apanya yang “baru, khas, unik, beda” dengan karya-karya yang terbit sebelumnya. Meskipun berbagai tanggapan atas novel ini bermunculan dengan segala kontroversinya itu cenderung memasukkannya ke barisan Angkatan 70-an, bagi saya, rasanya tidak tepat benar. Boleh jadi penggarapan novel ini dengan pretensi menawarkan model estetika yang berbeda dengan Angkatan 70-an itu. Ada model estetika yang hendak ditawarkannya yang tidak persis sama dengan semangat “kembali ke akar, kembali ke tradisi.” Budi Darma cenderung bermain dengan khazanah sastra dunia, khasnya Inggris, Rusia, dan Amerika, sebagaimana yang kemudian menjadi bagian integral novel itu, dan kemudian dinyatakan dalam Bagian VI, “Asal-Usul Olenka” (hlm. 240-250). Di balik itu, kita juga melihat, betapa besarnya apresiasi Budi Darma pada sosok Chairil Anwar. Dengan begitu, Olenka boleh juga dikatakan sebagai usaha Budi Darma memancangkan sebuah tonggak estetika yang berbeda dengan karya-karya yang lainnya. Maka, tonggak itu tentu saja jadi tak gampang dirobohkan.
 
Jika kita memperhatikan model kisahan dan karakterisasi Olenka, maka yang segera dapat kita tangkap adalah model kisahan yang seperti sengaja dilanturkan ke mana-mana. Konsep lanturan yang dalam novel konvensional dianggap sebagai kelemahan -karena dianggap melenceng dari alur utama- maka dalam Olenka, peristiwa-peristiwa itu justru hadir lantaran di sana peristiwa lanturan sengaja dibebaskan bergerak ke mana-mana. Dialog antar-tokoh-tokohnya selalu tidak fokus membincangkan satu pokok persoalan. Dengan begitu, pembicaraannya seperti mencang-mencong ke sana ke mari. Tetapi, justru dengan begitu, bangunan alur sesukanya menggelinding sesuai dengan tuntutan tokoh-tokohnya. Akibatnya, karakterisasi setiap tokohnya juga menclak-menclok. Dengan demikian, alur tidak lagi bertumpu pada hubungan kausalitas, melainkan jatuh pada rentetan peristiwa. Bukankah dalam kehidupan yang sebenarnya, kita (manusia) kerap terjebak pada peristiwa yang mencang-mencong itu? Itulah kehidupan yang absurd, yang tak terpahami, yang tak berurutan menurut tuntutan logika formal. Itulah kehidupan manusia yang sebenarnya: absurd, mencang-mencong, dan penuh berbagai lanturan.
 
Jika disederhanakan, novel ini berkisah tentang kehidupan yang aneh suami-istri, Wayne Danton-Olenka. Di antara itu, bermain pula perselingkuhan Olenka dan Fanton Drummond yang juga tidak kalah anehnya. Tetapi perpisahannya dengan Olenka yang sering kali berkelebat mengganggu pikirannya, memaksa Fanton Drummond menggelandang hingga sampai ke Chicago dan berjumpa dengan Mary Carson, perempuan aneh lainnya yang akhirnya cacat lantaran kecelakaan pesawat. Dengan tokoh Fanton Drummond sebagai pencerita, latar sekitar Tulip Tree dan terjadinya hubungan yang serba aneh, ganjil, absurd, lengkap dengan segala kegilaannya itu, terus bergerak menabrak banyak hal, meledek seniman picisan, pendeta dan rohaniawan, bahkan juga tradisi ilmiah yang oleh kalangan akademisi dipuja sebagai keniscayaan dan kebenaran mutlak. Muaranya adalah kesadaran eksistensial tentang keberadaan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan.
 
Dilihat dari aspek kesastraan, Olenka disajikan dengan semangat tidak memanjakan sentimentalisme pembaca. Horison harapan pembaca terus diganggu, dihancurkan, sehingga tragedi yang terjadi pada hubungan suami istri Wayne Danton-Olenka, tidak membuat kita ikut bersedih atau berpihak pada salah satu tokohnya. Kerja keras Olenka untuk menghidupi keluarganya, juga tidak menggiring kita simpati atau empati. Kemalasan Wayne Danton yang lebih suka hidup dalam ketiak istrinya, juga tidak memaksa kita harus membenci dan memusuhinya. Segalanya berjalan penuh ketidakwajaran atau seperti adanya. Begitu juga perselingkuhan tokoh saya (Fanton Drummond) dengan Olenka, tidak membawa kita bersikap antipati atau setuju. Maka, ketika tokoh Fanton berhasrat menjadikan Olenka sebagai istrinya dan bercita-cita membangun rumah tangga yang bahagia yang kemudian gagal karena terjadi perpisahan, tidak ada kesedihan atau kebahagiaan yang tiba-tiba mengganggu kita.
 
Jika begitu, apa yang kita peroleh dari cara penyajian yang seperti itu dan bagaimana kita menyikapinya? Lalu di mana pula estetikanya jika segalanya berjalan liar tak terduga dan pembaca tidak diberi ruang untuk menghadirkan perasaannya di sana? Dalam hal ini, teks itu menawarkan banyak hal yang memaksa kita membuka saklar imajinasi kita seluas-luasnya, sebebas-bebasnya.
 
Jika dicermati benar, sesungguhnya Budi Darma coba memotret kehidupan real yang sering terjadi dalam peristiwa keseharian kita. Hidup yang penuh paradoks, tidak terduga, tak terpahami, dan tumpang-tindih tidak beraturan. Jika novel-novel konvensional coba mengangkat kehidupan ini sebagai sebuah rentetan peristiwa yang teratur, mensyaratkan adanya hubungan kausalitas, dan segalanya tersusun secara bertahap, maka Olenka, menghancurkan semua itu. Logika formal tidak berlaku lagi di sana. Rentetan peristiwa bisa berseliweran begitu saja.
 
Perhatikan kutipan berikut:
 
Inilah permintaannya: izin untuk menggigit tubuh saya, kemudian mengisap darah saya. Kemudian dia akan meneliti dan mencium tubuh saya, inci demi inci, tanpa terlewati. Saya takut, jangan-jangan perpisahan sudah hampir tiba.
 
Memang dia menghilang tanpa meninggalkan pesan pada waktu saya tertidur.
 
Di luar ada suara ramai. Saya tidak tahu apa sebabnya. Kemudian saya turun.
 
Orang-orang masih sibuk memperbincangkan balon Trans-Amerika da Vinci yang baru saja melewati udara Bloomington dan kebetulan melayap di atas Tulip Tree. (hlm 60)
 
Apa hubungan permintaan Olenka dan perpisahannya dengan tokoh saya, dengan peristiwa balon Trans-Amerika da Vinci yang menjadi perbincangan masyarakat? Model rangkaian peristiwa itulah yang sering menimpa kita dalam kehidupan sehari-hari. Ketika kita melakukan sesuatu, bukankah pada saat yang sama fakta dan peristiwa berseliweran di sekeliling kita? Begitulah, sejumlah peristiwa lain dalam novel itu kita jumpai sebagai rentetan peristiwa, tanpa perlu ada hubungan sebab-akibat. Jadi, dalam hal ini, Budi Darma melalui Olenka hendak mengajari kita menjadi pembaca yang cerdas, yang berpikir, yang ikut terlibat aktif dalam memaknai peristiwa-peristiwanya, dan bukan sebagai pembaca yang pasif, yang menerima begitu saja apa yang disampaikan pengarang. BudiDarma hendak mengembalikan kekuasaan pemaknaan teks di tangan pembaca. Dengan cara itu pula, teks hadir ke hadapan pembaca sebagai sesuatu yang inspiring, memaksa pembaca untuk memainkan saklar imajinasinya sekehendak pembaca.
 
Perhatikan pula metafora berikut ini yang terasa segar dan inspiratif.
 
Seperti biasa, saya memperlakukan tubuh Olenka sebagai sebuah peta dunia. Saya hafal benar segala liku-liku tubuhnya. Bahkan degup jantungnya pun saya ketahui dengan terperinci. Sering dia, saya letakkan di atas tempat tidur, kemudian saya pindah ke meja tulis, lalu ke meja setrika, selanjutnya ke bak kamar mandi, terus ke sofa, terus ke babut, ke meja masak, bahkan kadang-kadang ke atas lemari pakaian. Kadang-kadang dia tertidur setelah saya letakkan di atas lemari pakaian. (hlm. 47)
 
Sesungguhnya banyak hal yang menarik yang sengaja ditampilkan Budi Darma. Sebutlah penyertaan foto-foto sebagai fakta dalam fiksi. Bukankah dengan cara ini, fakta dalam kehidupan kita tidak jarang ditaburi dengan kisah-kisah fiksional, dan sebaliknya, fiksi dalam novel itu, seolah-olah faktual dengan keberadaan foto-foto itu? Tambahan lagi, keterangan Budi Darma sendiri tentang “Asal-Usul Olenka” (hlm. 240) sebagai bagian integral dari novel itu, menjadikan posisi tokoh saya (Fanton Drummond) dan tokoh saya (Budi Darma) bisa tumpang-tindih, saling mengisi, melengkapi, komplementer? Bukankah dalam banyak kasus dalam cerpen atau novel, penggunaan pencerita orang pertama (akuan), tidak jarang diidentikkan juga dengan pengarangnya?
 
Begitulah, Olenka telah menghancurkan batas fakta?fiksi, termasuk juga di dalamnya konvensi ilmiah yang ditandai dengan keberadaan footnote (catatan kaki). Catatan kaki yang d dalam tradisi ilmiah sebagai pengukuh dan alat legitimasi rujukan faktual, diolok-olok Budi Darma dengan rujuk silang yang saling melengkapi. Perhatikan keterangan dalam catatan kaki 2 berikut ini:
 
Di Bloomington saya pernah berkenalan dengan seorang pengarang berasal dari negara bagian Missouri, kalau tidak salah, namanya Peter Leech atau Peter Leach. Dia pernah menulis cerpen yang judulnya tidak dapat saya ingat kembali, dimuat di sebuah majalah sastra yang namanya juga tidak dapat saya ingat kembali. Cerpen ini masuk ke dalam antologi cerpen terbaik tahun tujuh puluh sekian. Kalau tidak salah antologi ini berjudul O Henry Award, kalau tidak salah antologi tahunan untuk memperingati jasa-jasa pengarang cerpen O?Henry. Cerpen Wayne Danton, “Olenka” irip dengan cerpen di atas.
 
Bagaimana kita menyikapi novel seperti ini? Jika kita menghadapi sesuatu yang kita anggap “gila”, maka kita harus mengahadpinya dengan kegilaan yang lain lagi. Menghadapi novel ini pun, kita harus menyikapinya dengan cara yang berbeda dengan ketika kita menghadapi novel-novel konvensional. Biarkanlah pikiran kita berhadapan dengan teks itu tanpa pretensi dan harapan-harapan tertentu. Dengan cara itu, kita akan dapat merasakan betapa cerdasnya teks itu memaksa kita memperkaya wawasan kita dengan sejumlah rujukan yang eksplisit-implisit diisyaratkan di sana. Dengan cara itu pula, pembaca berkuasa mengarungi lautan tafsir yang disajikan dalam novel itu. Di situlah estetika novel itu memancarkan auranya.
 
Olenka sungguh telah tampil sebagai novel luar biasa. Kita tak akan bosan membacanya berulang-ulang, seperti tokoh saya yang memperlakukan tubuh Olenka seperti sebuah peta dunia dan kita bebas memperlakukan dan menggerayanginya berulang-ulang, sesukanya, kapan saja.
***
 
*) Pengantar Talkshow “Membaca Kepengarangan Budi Darma melalui Olenka,” diselenggarakan Penerbit Balai Pustaka di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu, 5 Juli 2009, 13.00-15.00

**) Maman S. Mahayana, lahir di Cirebon, Jawa Barat, 18 Agustus 1957. Dia salah satu penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden Republik Indonesia, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (2005). Menyelesaikan pendidikannya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FS UI) tahun 1986, dan sejak itu mengajar di almamaternya yang kini menjadi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Tahun 1997 selesai Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pernah tinggal lama di Seoul, dan menjadi pengajar di Department of Malay-Indonesian Studies, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Selain mengajar, banyak melakukan penelitian. Beberapa hasil penelitiannya antara lain, “Inventarisasi Ungkapan-Ungkapan Bahasa Indonesia” (LPUI, 1993), “Pencatatan dan Inventarisasi Naskah-Naskah Cirebon” (Anggota Tim Peneliti, LPUI, 1994), dan “Majalah Wanita Awal Abad XX (1908-1928)” (LPUI, 2000). http://sastra-indonesia.com/2010/10/realitas-fiksional-olenka/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A. Syauqi Sumbawi A.C. Andre Tanama Aang Fatihul Islam Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W. M. Adam Roberts Adelbert von Chamisso Adreas Anggit W. Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus R. Sarjono Ahmad Farid Yahya Ahmad Yulden Erwin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Albert Camus Albrecht Goes Alexander Pushkin Alit S. Rini Amien Kamil Amy Lowell Andra Nur Oktaviani André Chénier Andy Warhol Angela Angela Dewi Angrok Anindita S. Thayf Anton Bruckner Anton Kurnia Anwar Holid Arif Saifudin Yudistira Arthur Rimbaud Arti Bumi Intaran AS Laksana Asep Sambodja Awalludin GD Mualif Axel Grube Bambang Kariyawan Ys Basoeki Abdullah Beethoven Ben Okri Bernando J. Sujibto Berthold Damshäuser Berto Tukan BI Purwantari Birgit Lattenkamp Blaise Cendrars Book Cover Brunel University London Budi Darma Buku Kritik Sastra C.C. Berg Candra Kurnia Cecep Syamsul Hari Chairil Anwar Chamim Kohari Charles Baudelaire Claude Debussy Cristina Lambert D. Zawawi Imron Damhuri Muhammad Dana Gioia Daniel Paranamesa Dante Alighieri Dante Gabriel Rossetti (1828-1882) Dareen Tatour Darju Prasetya Darwin Dea Anugrah Denny Mizhar Diponegoro Djoko Pitono Djoko Saryono Dwi Cipta Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Edgar Allan Poe Eka Budianta Eka Kurniawan Emha Ainun Nadjib Emily Dickinson Enda Menzies Endorsement Ernest Hemingway Erwin Setia Essay Evan Ys Fahmi Faqih Fatah Anshori Fazabinal Alim Feby Indirani François Villon François-Marie Arouet (Voltaire) Frankfurt Book Fair 2015 Franz Kafka Franz Schubert Franz Wisner Frederick Delius Friedrich Nietzsche Friedrich Schiller Fritz Senn FX Rudy Gunawan G. J. Resink Gabriel García Márquez Gabriela Mistral Gerson Poyk Goenawan Mohamad Goethe Hamid Dabashi Hardi Hamzah Hasan Junus Hazrat Inayat Khan Henri de Régnier Henry Lawson Hera Khaerani Hermann Hesse Ibnu Rusydi Ibnu Wahyudi Ignas Kleden Igor Stravinsky Imam Nawawi Indra Tjahyadi Inspiring Writer Interview Iskandar Noe Jakob Sumardjo Jalaluddin Rumi James Joyce Jean-Paul Sartre Jiero Cafe Johann Sebastian Bach Johannes Brahms John H. McGlynn John Keats José de Espronceda Jostein Gaarder Kamran Dikarma Katrin Bandel Khalil Gibran (1883-1931) Koesoema Affandi Koh Young Hun Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Koskow Kulya in the Niche of Philosophjy Laksmi Pamuntjak Laksmi Shitaresmi Lathifa Akmaliyah Laurencius Simanjuntak Leila S Chudori Leo Tolstoy Lontar Foundation Lorca Lord Byron Ludwig Tieck Luís Vaz de Camões Lutfi Mardiansyah Luthfi Assyaukanie M. Yoesoef M.S. Arifin Mahmoud Darwish Mahmud Ali Jauhari Mahmudi Maman S. Mahayana Marco Polo Martin Aleida Mathori A Elwa Max Dauthendey Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Michael Kumpfmüller Michelangelo Milan Djordjevic Minamoto Yorimasa Modest Petrovich Mussorgsky Mozart Mpu Gandring Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Yasir Mulla Shadra Nenden Lilis A Nikmah Sarjono Nikolai Andreyevich Rimsky-Korsakov Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Notes Novel Pekik Nunung Deni Puspitasari Nurel Javissyarqi Octavio Paz Orasi Budaya Orhan Pamuk Pablo Neruda Panos Ioannides Patricia Pawestri Paul Valéry Paul van Ostaijen PDS H.B. Jassin Penerbit SastraSewu Percy Bysshe Shelley Pierre de Ronsard Poems Poetry Pramoedya Ananta Toer Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Putu Setia Pyotr Ilyich Tchaikovsky R. Ng. Ronggowarsito (1802-1873) Rabindranath Tagore Radhar Panca Dahana Rainer Maria Rilke Rakai Lukman Rama Dira J Rambuana Read Ravel Rengga AP Resensi reviewer RF. Dhonna Richard Strauss Richard Wagner Ridha al Qadri Robert Desnos Robert Marcuse Ronny Agustinus Rosalía de Castro Ruth Martin S. Gunawan Sabine Müller Samsul Anam Santa Teresa Sapardi Djoko Damono Sara Teasdale Sasti Gotama Saut Situmorang Schreibinsel Self Portrait Nurel Javissyarqi by Wawan Pinhole Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Short Story Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Siwi Dwi Saputro Soeprijadi Tomodihardjo Sofyan RH. Zaid Solo Exhibition Rengga AP Sony Prasetyotomo Sri Wintala Achmad Stefan Zweig Stefanus P. Elu Subagio Sastrowardoyo Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri T.S. Eliot Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Tengsoe Tjahjono Thales The World Readers Award Tito Sianipar Tiya Hapitiawati To Take Delight Toeti Heraty Tunggul Ametung Ulysses Umar Junus Unknown Poet From Yugoslavia Usman Arrumy Utami Widowati Vladimir Nabokov W.S. Rendra Walter Savage Landor (1775-1864) Watercolour Paint Wawan Eko Yulianto Wawan Pinhole Welly Kuswanto Wildani Hefni William Blake William Butler Yeats Wizna Hidayati Umam World Letters X.J. Kennedy Yasraf Amir Piliang Yasunari Kawabata Yogas Ardiansyah Yona Primadesi Yuja Wang Yukio Mishima Z. Afif Zadie Smith Zeynita Gibbons